Tragedi Tragis di Balik Lahirnya May Day

oleh -49 views
Ukiran kayu dari Haymarket Riot oleh Thure de Thulstrup, diterbitkan di Harper's Weekly pada tanggal 15 Mei 1886.(Library of Congress, Washington, D.C.)

CARUBAN NAGARI-Hari Buruh seringkali diwarnai seruan aksi dari kalangan pekerja berbagai penjuru tanah air. Banyak aksi dan perjuangan yang melatarbelakangi hingga 1 Mei diciptakan sebagai May Day.

carubannagari.radarcirebon.com mengutip karya fiksi ilmiah postmodern berjudul illuminatus trilogy karya Robert Shea dan Robert Anton Wilson. Dalam buku tersebut dikupas tuntas bahwa 1 Mei 1776, sebuah perkumpulan persaudaraan rahasia didirikan. Pengagasnya adalah Adam Weishaupt. Nama kelompok ini adalah Illuminati. Kemudian, banyak digunakan untuk menunjukkan organisasi persekongkolan yang dipercaya mendalangi dan mengendalikan berbagai peristiwa di dunia melalui pemerintah dan korporasi untuk mendirikan Tatanan Dunia Baru.

Pada awalnya Weishaupt berencana bahwa kelompok itu akan dinamai “Perfectibilists”. Kelompok itu juga disebut Illuminati Bavaria dan ideologinya disebut “Illuminisme”. Banyak intelektualis dan politisi progresif terkenal yang menjadi anggotanya. Organisasi ini memiliki cabang di banyak negara di Eropa. Dilaporkan bahwa ada sekitar 2.000 anggota dalam kurun waktu 10 tahun berhasil direkrut Illuminati.

Hari kelahiran Illuminati sendiri ditetapkan setelah Weishaupt selesai menyusun buku yang berjudul The Novus Ordo Seclorum yang berisi konsep-konsep, doktrin, serta teori tentang pemerintahan global.  Sebagai penghormatan terhadap dirinya, tanggal 1 Mei dijadikan sebagai hari perayaan buruh di seluruh dunia. Pemikiran Weishaupt dikembangkan pula pada pola pemikiran filosof Friedrich W Nietzsche yang mengkampanyekan slogan “God is dead!”

Gerakan Iluminati akhirnya berkembang dikarenakan dukungan dari keluarga Rothchild. Keluarga ini merupakan tokoh perbankan yang sangat dominan di Jerman dan disebut sebagai dinasti, karena keturunannya memegang jaringan kerajaan dunia perbankan di Eropa.

carubannagari.radarcirebon.com mengutip The History of May Day karya Alexander Trachtenberg mengungkapkan bahwa perkembangan kapitalisme industri di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat mengawali sejarah perjuangan kelas pekerja dunia untuk kelas pekerja dunia, yang dimulai pada awal abad 19 di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat.

Aksi pertama buruh mungkin dimulai pada 1806. Saat itu terjadi pemogokan pekerja di AS yang pertama kalinya. Pemogokan dilakukan pekerja perusahaan pembuat sepatu Cordwainers. Nahas, nasib para pekerja yang melakukan aksi diproses ke pengadilan.

Dalam proses hukum itu diketahui nasib miris para pekerja, yang diharuskan bekerja 19-20 jam setiap harinya. Maka kelas pekerja Amerika Serikat pada masa itu kemudian memiliki agenda perjuangan bersama, yaitu menuntut pengurangan jam kerja.

Kemudian, carubannagari.radarcirebon.com juga mencatat May Day terkait dengan peran penting pekerja asal New Jersey Peter McGuire dalam pembentukan serikat pekerja. Pada 1872, ia bersama 100 ribu pekerja lainnya, termasuk para pengangguran melakukan aksi mogok kerja untuk menuntut pengurangan jam kerja. Dalam Labor Day (1st Monday of September) Ia mendesak pemerintah kota untuk menyediakan pekerjaan dan uang lembur bagi pekerja. Pada 1881, McGuire pindah ke Missouri dan mulai mengorganisir tukang kayu. Hasilnya, di Chicago berdiri persatuan tukang kayu dengan McGuire sebagai sekretaris umumnya. Inilah cikal bakal adanya serikat pekerja.

Selanjutnya, The Brief Origins of May Day  mencatat tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja sedunia, setelah dilangsungkan kongres internasional pertama di Jenewa, Swiss, 1886, dan dihadiri organisasi pekerja dari berbagai negara. Tuntutan mereka masih sama: Pengurangan jam kerja menjadi delapan jam sehari.

Pada 1 Mei dipilih karena mereka terinspirasi kesuksesan aksi buruh di Kanada pada 1872. Buruh di negara itu menuntut delapan jam kerja seperti buruh di AS, dan mereka berhasil. Delapan jam kerja di Kanada resmi diberlakukan mulai 1 Mei 1886.

Namun, sebagaimana dikutip dari The Haymarket Martyrs ada kisah kelam yang membedakan Kanada dengan AS. Buruh AS ditembaki polisi pada aksi 1-4 Mei 1886, bersamaan dengan mulai berlakunya delapan jam kerja di Kanada. Sekitar 400 ribu buruh di AS menggelar demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja. Penembakan itu terjadi pada hari terakhir yang menewaskan ratusan orang. Pemimpin buruh itu juga ditangkap dan dihukum mati.

Peristiwa ini dikenal dengan tragedi Haymarket karena terjadi di bundaran Lapangan Haymarket. Sebagai penghormatan pada aksi itu, Kongres Sosialis Dunia yang digelar di Paris pada Juli 1889 menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Sedunia atau May Day. Hal ini memperkuat keputusan Kongres Buruh Internasional yang berlangsung di Jenewa pada 1886.

Di Indonesia, era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi mengesahkan hari buruh internasional yang diperingati setiap 1 Mei sebagai hari libur nasional melalui akun twitternya @SBYudhoyono, Selasa, Presiden mengatakan telah menandatangani Peraturan Presiden bahwa 1 Mei sebagai hari libur nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *