Teka-teki Nama Istri Pertama Prabu Siliwangi, Nhay Ambet Kasih atau Nyai Rambutkasih

oleh -1.839 views
Naskah Cariosan Prabu Siliwangi "Naskah Asli Cariosan Prabu Siliwangi" digitalisasi EFEO
Naskah Cariosan Prabu Siliwangi "Naskah Asli Cariosan Prabu Siliwangi" digitalisasi EFEO

CARUBAN NAGARI-Ada kisah yang tidak terlalu populer di Tatar Pasundan yaitu adanya istri pertama Pamanah Rasa ialah Nhay Ambet Kasih. Kisah tentang Ambet Kasih tertera dalam Naskah Lontar “Carita Ratu Pakuan” yang disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dalam kropak 410. Diperkirakan ditulis akhir abad ke-17 atau awal abad ke-18.

Baca: Terungkap Istri Prabu Siliwangi, Carita Ratu Pakuan Sebut 56 Nama dan Asal-usulnya

Nama Nhay Ambetkasih mengalami perubahan pelafalan menjadi Nyai Ambetkasih dan Nyai  Rambutkasih. Nama Nyai Ambetkasih terkait sejarah kota Majalengka Jawa Barat. Kisahnya menjadi misteri karena jarang dituturkan dalam sejarah Pajajaran. Disebut-sebut bahwa Prabu Siliwangi dari Nyai Ambetkasih/Rambutkasih tidak memiliki anak dan dalam kisah legenda Majalengka, Nyai Ambetkasih berakhir dengan ‘ngahiyang’ alias menghilang.

Menariknya bahwa Nyai Ambetkasih justru kisahnya berlanjut di Jawa Tengah. Namanya disebutkan dalam naskah Babad Pasir. Babad Pasir ini menceritakan cikal bakal kerajaan Dayeuh Luhur (Kabupaten Cilacap) dan Kerajaan Pasir Luhur (Banyumasan). Mengapa bisa ada missing link?

Ambetkasih dalam sejarah Cilacap dan Banyumasan yang mengacu pada Babad Pasir, memiliki 3 orang anak: 2 orang putra dan 1 orang putri, yaitu Banyak Catra (Kamandaka), Banyak Ngampar (Gagak Ngampar) dan Ratna Pamekas (Retna Ayu Mrana).

Pada tahun 1475 M, Kerajaan Dayeuh Luhur sudah dipimpin oleh raja Banyak Catra. Tahun 1475 ini, berarti Sribaduga Maharaja (Siliwangi) belum menjadi raja Sunda-Galuh (Pajajaran) dan masih dikenal dengan gelarnya Pangeran Pamanah Rasa.

Dalam kisah Ratu Pakuan, digambarkan iring-iringan Ambetkasih yang pindah dari istana timur (Kraton Surawisesa di Galuh) menuju Istana Barat di Pakuan Pajajaran (Sunda).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.