Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Jati di Naskah Mertasinga

oleh -185 views
Naskah Mertasinga

CARUBAN NAGARI-Naskah Mertasinga ditulis dengan penulisan sastra (tembang), naskah ini didalamnya terdiri dari 87 Pupuh dengan 1918 bait dan 14.478 baris. Naskah Mertasinga, pada mulanya adalah pusaka keluarga M.Argawinata yang merupakan pensiunan asisten wedana Mertasinga. Selanjutnya cucu M.Argawinata yaitu Aman N. Wahyu, kemudian naskah tersebut disebarluaskan beliau dengan cara di alih aksarakan dan diterjamahkan  dari bahasa Cirebon  ke Indonesia. Kemudian naskah tersebut dijadikan sebuah buku yang diberi judul “Sejarah Wali. Syekh Syarif Hidayatulah. Sunan Gunung Jati (Naskah Mertasinga)”.

Menurut Uka Tjandrasasmita, menarik dalam naskah ini ialah mengenai ajaran-ajaran sufisme dan tarekat yang dipelajari oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati disamping juga dicantumkannya silsilah para Wali Sanga. Demikian pula apabila dalam “Babad Tjerbon” koleksi Dr. J.L.A. Brandes tidak diceritakan masalah pemberontakan Bagus Rangin, dan Bagus Serit, maka dalam naskah “Sajarah Wali” dapat kita baca.

Masih banyak lagi peristiwa-peristiwa yang diuraikan dalam naskah “Sajarah Wali” yang dapat kita bandingkan dengan babad-babad lainnya seperti dalam naskah “Purwaka Caruban Nagari” susunan Pangeran Arya Cerbon tahun 1720, “Negarakertabhumi” susunan Pangeran Wangsakerta yang telah diterbitkan oleh Drs. Atja, Dr. Edy S. Ekajati, Dr. Ayat Rohaedi. Demikian pula dengan naskah-naskah “Sajarah Banten” dan lainnya yang pernah diteliti dan menjadi disertasi Dr. R.A. Hoesein Djajadiningrat di Universiteit Leiden tahun 1913.

Sementara itu, Amman N Wahyu sebagai penerjemah mengatakan bahwa Naskah ini adalah alih bahasa dari sebuah babad, dimana sebagaimana kita ketahui bahwa sebagai sebuah babad peristiwa yang diceriterakan di dalamnya tidak sepenuhnya bernilai sejarah. Dalam “Ensiklopedi Indonesia” (vol.I:342), dikatakan bahwa “Babad adalah riwayat yang merupakan campuran  antara sejarah, mitos dan kepercayaan. Tidak seperti sejarah  yang disusun  berdasarkan  bukti-bukti sejarah, di dalam  babad terdapat banyak unsur irasional. Unsur magis dalam babad  ini besar, hal mana dilakukan dalam rangka mengagungkan raja  dan wangsa (dinasti)nya”.

Seperti yang kita lihat dalam babad ini, cerita  disusun dalam bentuk seni-sastra, dimana untuk memenuhi kaidah-kaidah atau  syarat-syarat  seni-sastra tersebut  si  penulis  tidak mustahil “terpaksa” harus memasukan kalimat ataupun peristiwa rekaan.  Oleh  karena sifatnya itulah  maka  dikatakan  bahwa karya sastra perlu ditelaah sebelum dapat dipergunakan  sebagai sumber sejarah. Selanjutnya para ahli sejarah  mengatakan bahwa pada masa lalu dapat dikatakan di Indonesia tidak  ada naskah sejarah, dalam arti naskah yang ditulis dengan  tujuan catatan sejarah atau dokumen seperti yang dituntut para pakar sejarah dewasa ini (PSN:108).

Berikut Ini adalah beberapa kandungan kisah yang terdapat dalam Naskah Mertasinga, yang telah diberi judul oleh penulis buku Sejarah Wali :

Bab-IV   Syarif Hidayatullah pergi ke Baitullah dan mencari guru yang mursid

  1. Meninggalkan Banisrail.
  2. Berguru kepada Syekh Najmurini Kubra di Mekkah, mendapat nama Madkurallah
  3. Berguru kepada Syekh Muhammad Aretullah di Sadili, mendapat nama Arematullah
  4. Belajar Tarekat Anapsiah di Pasai, diberi nama Abdul Jalil.
  5. Syarif Hidayatullah tiba di Krawang bertemu dengan Syekh Benthong.
  6. Bertemu dengan Syekh Haji Jubah.
  7. Belajar Tarekat Jauziyah Madamakhidir kepada Datuk Barul, diberi nama Wujudullah.
  8. Belajar pada Sunan Ampel Denta. Pertemuan dengan Wali-wali lain.

Bab-V    Syarif Hidayatullah menetap di Gunung Sembung

  1. Pertemuan dengan Patih Keling.  
  2. Menetap di Gunung Sembung dan perjumpaan dengan sanak keluarganya
  3. Kedatangan Babu Dampul dari Mesir.     
  4. Pertemuan dengan Dipati Cangkuang.     
  5. Mengunjungi Pangeran Makdum, adik Syekh aulana Magribi.   
  6. Syarif Hidayatullah menikahi Nyi Mas Babadan.       
  7. Patih Pajajaran beserta prajuritnya menjadi murid di Gunung Jati.    
  8. Kisah Ki Sangkanurip.   

Bab-VI Akhir dari kerajaan Galuh Pajajaran

  1. Prabu Pajajaran meninggalkan singasananya
  2. Kisah putri Pajajaran yang tertinggal
  3. Keadaan anak-cucu Pajajaran setelah kepergian sang raja

Bab-VII  Syarif Hidayatullah kembali ke Banisrail

  1. Syarif Hidayatullah menobatkan adiknya di Banisrail
  2. Berjumpa dengan raja Jamhur
  3. Syekh Maulana mengunjungi negara Cina
  4. Patih Sampo Talang menetap di Palembang
  5. Putri Anyon Tin meninggalkan Cina

Bab-VIII  Syarif Hidayatullah kembali ke Gunung Jati

  1. Syekh Maulana kembali ke Gunung Jati
  2. Kunjungan Pangeran Makdum dan Sunan Kalijaga ke Gunung Jati.
  3. Syekh Maulana tiba kembali di Gunung Jati                      
  4. Kedatangan rombongan putri Cina
  5. Memperoleh dua putra dari Rara Jati
  6. Pangeran Karang Kendal

Bab-IX  Pajajaran sepeninggal Prabu Siliwangi

  1. Syekh Maulana memeriksa sisa-sisa kraton Pajajaran. 
  2. Pertemuan dengan nenek Nyi Sumbang Karancang
  3. Pucuk Umun masuk agama Islam
  4. Raja Lahut diangkat menjadi Pangeran Jaketra
  5. Kisah pembalasan dendam Dewi Mandapa  
  6. Syekh Maulana mengunjungi neneknya di Banten, diberi nama Syekh Maulana Akbar.   
  7. Syekh Maulana menikah dengan Putri Kawunganten
  8. Arya Lumajang menjadi raja Pakuan dengan gelar Suhunan Ranggapaku.
  9. Syekh Maulana Kabir kembali ke Gunung Jati.  
  10. Kisah Ki Gedeng Junjang

Bab-X  Syarif Hidayatullah menjemput ibundanya

  1. Syekh Maulana menjemput ibundanya di Banisrail
  2. Kunjungan Pangeran Panjunan ke Gunung Jati

Bab-XI  Kisah Raden Patah

  1. Raden Patah dan Raden Husen belajar di Ampel Denta
  2. Sunan Ampel melarang Raden Patah menyerang Majapahit. 
  3. Raden Patah mendirikan pesantren di Bintara.     

MASA PEMERINTAHAN SUNAN GUNUNG JATI

Bab-XII    Syarif Hidayatullah dinobatkan menjadi Sinuhun Gunung Jati

  1. Syekh Maulana membawa ibundanya kembali ke Gunung Jati.
  2. Persinggahan di Cempa
  3. Syekh Mustakim mengenai silsilah Wali-wali di Jawa
  4. Syekh Maulana tiba kembali di Gunung Sembung
  5. Pertemuan Pangeran Panjunan dengan Syekh Maulana
  6. Pangeran Panjunan mengasingkan diri ke Wringin Pitu
  7. Syekh Maulana memperistri Nyi Rara Tepasan.  
  8. Penobatan Syekh Maulana menjadi Kanjeng Sinuhun Jati
  9. Sinuhun Jati membangun Mesjid Agung Pakungwati.

Bab-XIII   Musyawarah Walisanga dan pembangunan mesjid

  1. Walisanga menghadiri wafatnya Sunan Ampel
  2. Perdebatan para Wali dengan Syekh Lemabang
  3. Walisanga membangun Mesjid Agung Demak. 
  4. Arya Bintara mempersiapkan penyerbuan ke Majapahit.    
  5. Sunan Kalijaga membuat sakaguru Mesjid Demak
  6. Perdebatan Walisanga mengenai kiblat Mesjid Demak.
  7. Baju Antakusumah.
  8. Mesjid Agung Demak

Bab-XIV  Berdirinya kerajaan Demak

  1. Peperangan Walisanga dengan Majapahit
  2. Prabu Brawijaya meninggalkan singasana Majapahit.
  3. Pasukan Demak mengalahkan Majapahit
  4. Arya Bintara dinobatkan menjadi Sultan Demak Abdul Patah
  5. Adipati Teterung menyerahkan diri kepada Sunan Kudus. 
  6. Riwayat Jaka Tingkir yang menjadi Sultan Agung Pajang.
  7. Riwayat Raden Behi pendiri Mataram
  8. Riwayat Kertasura
  9. Walisanga  meninggalkan Demak dan pergi ke Carbon

Bab-XV   Beberapa peristiwa di Carbon dan Demak (I)

  1. Musyawarah Wali yang kedua di Gunung Carme
  2. Pernikahan Pangeran Pasarean dengan Ratu Dewi
  3. Kedatangan orang Keling di Desa Pilang
  4. Penyelesaian Masjid Agung Carbon
  5. Sasmita Mesjid Agung Carbon
  6. Batalnya Pangeran Makdum menjadi wali
  7. Sultan Demak-I wafat digantikan oleh Pangeran Sabrang Lor.

Bab-XVI   Batas Carbon dan pembagian kerajaan Pajajaran

  1. Batas-batas Carbon pada jaman Sunan Gunung Jati
  2. Pembagian Kerajaan Pajajaran

Bab-XVII  Hubungan Demak dan Carbon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.