Selusur Nama Santang dan Sancang

oleh -201 views
Kramat Talun Cirebon sebagai Makam Prabu Cakrabuana

CARUBAN NAGARI-Nama Sancang bagi sebagian warga Sunda sudah tidak asing lagi karena nama ini mirip dengan nama daerah pakidulan Garut “Leuweung Sancang” alias Hutan Sancang. Keberadaan Hutan Sancang sendiri terkait mitos Prabu Siliwangi beserta para pengikutnya yang berubah wujud menjadi harimau (basa Sunda: Maung) dan menetap di hutan sancang. Konon peristiwa itu terjadi karena Prabu Siliwangi tidak mau di-Islamkan oleh putranya yaitu ‘Kian Santang’

Nama Kian Santang ini menjadi kontroversi. Apakah sosok sejarah ataukan sosok imajiner? ditambah lagi  bahwa Kian Santang adalah kekeliruan penyebutan warga Sunda yang seharusnya “Kian Sancang”. Jadi mana yang benar?

Prabu Siliwangi dan Prabu Kian Santang adalah sosok legendaris. Tidak main-main, nama Siliwangi diabadikan sebagai nama Komando Daerah Militer, KODAM III/Siliwangi. Demikian pula Batalyon Infantri Raider 301 Prabu Kian Santang. Tentunya kedua sosok legendaris ini adalah sosok historis. Mari kita telusuri.

Telusur terminologi Kian atau keyan perlu dilakukan. Kata kian berasal dari raka i~rakean~rakryan. Istilah ini adalah sebuah gelar yang bisa kita telusuri dari Naskah Carita Parahyangan dan prasasti-prasasti Kerajaan Medang atau Mataram hindu. Pendiri Kerajaan Mataram Hindu adalah Raka i Mataram Sang Ratu Sanjaya (raka dari Mataram yang bernama Ratu Sanjaya). Sanjaya juga menjadi raja ke-2 Kerajaan Sunda-Galuh, sekaligus raja Kalingga san Mataram Hindu. 
Pada masa Mataram Kuno di Jawa Tengah, terdapat sebuah gelar dalam prasasti-prasasti dari abad ke-8 hingga abad ke-10, diantaranya yaitu raka atau rakai (kadang ditulis rake). Sesudah masa itu, gelar rakai cenderung tidak lagi dipakai, diganti dengan rakryan, yang tingkatnya sepadan dengan gelar rakai. Ada pun gelar rakryan (kadang ditulis rake[y]an) kemungkinan besar merupakan gabungan dari kata raka dan aryan dan merajuk kepada gelar jabatan administrasi kerajaan.

Penggunaan gelar rakryan mulai rajin dipergunakan pada masa Pu Sindok abad ke-10 di Jawa Timur dan berlangsung hingga zaman Kerajaan Kadiri, Singasari, dan Majapahit. Raka adalah seorang pemimpin atau penguasa yang telah berhasil menguasai sejumlah wanua (komunitas desa) yang disebut watak. Sederhanya Raka adalah Kepala Daerah Watak.

Ada pun wanua adalah wilayah kecil yang dipimpin oleh seorang rama (bapak desa), dan gabungan dari sejumlah wanua disebut watak di mana namanya diberikan pada raka. Dewan yang terdiri atas para rama disebut karaman (arti harfiahnya “tanah para rama”). 

Kembali kita lihat gelar Raka i Mataram Sang Ratu Sanjaya yang bisa kita terjemahkan raka dari Mataram yang bernama Ratu Sanjaya. Sangat jelas bahwa Sanjaya adalah nama pribadinya, ia seorang raka di Mataram dan juga bergelar Ratu atau Raja Sanjaya. Di Tatar Sunda, menyebutnya sebagai “Rakai Sanjaya” atau “Rakyan Sanjaya”. Gelar Raka atau Rakryan diikuti nama tempat, bukan nama pribadi. Raka i Mataram diterjemahkan Raka di Mataram. Jadi yang benar penyebutannya Raka i Mataram, Sang Ratu Sanjaya. Jadi tidak mungkin penyebutannya Raka i Sanjaya yang diterjemahkan Raka di Sanjaya. Aneh bukan? Karena Sanjaya bukan nama tempat, tetapi nama peibadinya. Hal inilah yang membuat kita bingung bila membandingkan nama-nama rakai atau rakryan pada raja-raja Sunda dan galuh. 

Cukup banyak nama penguasa dan raja Jawa yang bergelar raka, misalnya Raka i Pikatan (Raka dari wilayah Pikatan). Raka i Pikatan (Raka dari wilayah Pikatan) dan Raka i Mataram Sang Ratu Sanjaya (raka dari Mataram yang bernama Ratu Sanjaya). Nama-nama lainnya Raka i Panangkaran, Raka i Panunggalan, Raka i Warak, Raka i Garung, Raka i Pikatan, Raka i Kayuwangi, Raka i Watuhumalang, Raka i Watukura Dyah Balitung, Raka i Layang Dyah Tulodong, Raka i Sumba Dyah Wawa dan lain sebagainya.
 

Dan jika seorang raka telah diberi gelar maharaja, gelar rakai atau rake lazimnya tetap digunakan, misalnya pada Sri MaharajaRaka i Kayuwangi yang berarti bahwa penguasa ini sebelum bergelar raja merupakan raka dari Kayuwangi. Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung dapat kita kenali dari namanya bahwa ia seorang Raka di Watukura bernama Dyah Balitung. Selnjutnya nama itu diiikuti gelarnya menjadi: Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambu.

Daftar susunan raja-raja Sunda dan Galuh berdasarkan beberapa sumber. Diataranya bisa didapatkan dari sumber primer berupa prasasti dan sebagian lagi berasal dari sekunder berupa naskah lontar dan sumber tersier berupa Babad. Kemudian disusun oleh beberapa pihak menjadi tabel nama-nama yang dilengkapi masa kurun waktu pemerintahannya.

Berikut penulis ambil contoh sebagian dari daftar raja-raja Galuh

  1. Wretikandayun (Rahiyangta ri Menir, 612-702)
  2. Mandiminyak atau Prabu Suraghana (702-709)
  3. Sanna atau Séna/Sannaha (709-716)
  4. Purbasora (716-723)
  5. Rakeyan Jambri/Sanjaya, Rakai Mataram/Harisdarma (723-732);
  6. Tamperan Barmawijaya (732-739)
  7. Sang Manarah (739-746)
  8. Rakeyan ri Medang (746-753)
  9. Rakeyan Diwus (753-777)
  10. Rakeyan Wuwus (777-849)

Sementara menurut Naskah Wangsakerta daftar lengkap raja-raja yang bertahta di Kerajaan Galuh antara lain:

  1. Sang Wretikandayun (534-592) Saka (S)/ (612/3-670/1) M (Masehi) sebagai Raja Galuh.
  2. Sang Mandiminyak/ Suraghana (624-631) Saka/ (702/3-709/10) M.
  3. Sang Senna atau Sanna, 631-638 Saka/ (709/10-716/7) M.
  4. Sang Purbasura (638-645) Saka/ (716/7-723/4) M.
  5. Sang Sanjaya, Rakai Mataram (645-654) Saka/ (723/4-732/3) M, sebagai Maharaja Galuh dan Sunda.
  6. Sang Tamperan (654-661) Saka/ (732/3-739/40) M sebagai Maharaja Galuh dan Sunda.
  7. Sang Manarah (661-705) Saka/ (740-784), sebagai penguasa Galuh.
  8. Sang Manisri (705-721) Saka/ (783/4-799/800) Masehi sebagai raja Galuh.
  9. Sang Tariwulan (721-728) Saka/ (799/800-806/7) sebagai raja Galuh.
  10. Sang Welengsa (728-735) Saka (806/7-813/4) M sebagai raja Galuh.

Selain itu ada gelar prabu (perbu atau prebu) sebagai raja kecil dan bila memimpin beberapa prabu bawhan bergelar Mahaprabu. Pun demikian dikenal pula istilah raja untuk wilayah (vassal) dan Maharaja untuk pemimpin para raja.
  Daftar nama raja di atas adalah nama yang sering kita lihat disingkat atau disederhanakan oleh para penulisnya. Akibatnya satu sama lain dari susunan nama-nama itu nampak sepert berlainan. Contoh kita amati nama yang paling awal yaitu Sang Wretikandayun. Apakah ini gelar dan nama pribadinya? 

Sumber acuan yang bisa kita gunakan adalah Naskah Lontar Carita Parahyangan. Kita bisa membandingkan nama-nama yang beredar dengan Rahyang Ta ri Menir Maharaja Suradarma Jayaprakosa Sang Wretikandayun. Kita dapat membacanya seorang Rahyang di Menir (suatu tempat/wilayah) dan bergelar Maharaja Suradarma Jayaprakosa Sang Wretikandayun. Lalu siapa nama pribadinya? ia bernama Daniswara semasa kecilnya.

Kedua, Rakeyan Jambri/Sanjaya, Rakai Mataram/Harisdarma. Penulisan nama ini membingungkan. Rakeyan (rakryan) Jambri seharusnya dapat dibaca sebagai ‘Raka di Jambri’. Pertanyaannya apakah jambri nama sebuah tempat? Sementara penulisan Rakai Mataram sudah benar. Harisdarma mungkin adalah nama kecilnya.

Selanjutnya ada nama-nama Rakeyan ri Medang, Rakeyan Diwus, Rakeyan Wuwus. Rakeyan ri Medang dapat kita baca sebagai Raka di Medang (nama wilayah). Rakeyan Diwus, adalah seorang Raka di Diwus atau Raka di Wus? apakah sama dengan Rakeyan Wuwus?

Namun ada beberapa nama raja yang dapat ditelusuri dan akhirnya dimengerti. Diantaranya raja Sunda ke-5 yaitu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766-783) dapat dibaca sorang Raka dari Medang bergelar Prabu Hulukujang. Kemudian kita dapat memperbaiki penamaan Rakeyan Wuwus di atas yaitu Rakeyan Wusus Prabu Gajah Kulon atau aya yang menulisnya Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus (819-891). Dan berikut nama-nama yang benar penulisannya hingga dapat kita baca perjalanan kariernya yaitu: Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi (913-916), Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa (916-942), Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung (973-989), Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155-1157), Rakeyan Saunggalah Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175-1297).

Kian Santang dalam kisah Babad Wawacan Keyan Santang atau Wawacan prebu Keyan Santang, memberikan informasi bahka gelar kian atau kean berasal dari kata rakeyan/rakryan atau rakai. Namun, kita belum bisa mengidentifikasi bahwa Santang adalah nama sebuah tempat atau wilayah. Jika mengacu pada pemaparan di atas bahwa nama Rakryan atau Kian diikuti nama tempat. Apakah harus demikian? Jika merujuk pada naskah Cariosan Prabu Siliwangi yang ditulis pada tahun 1435 M, terdapar gelar rakryan dan sakyan. Gelar rakryan untuk laki-laki dan sakyan untuk perempuan. Contoh dalam naskah itu menyebutkan Sakyan Ambetkasih dan Sakyan Kentring Manik Mayang Sunda. Apakah gelar itu langsung diikuti nama pribadinya? sepertinya tidak. Nama Ambetkasih dan Kentring Manik Mayang Sunda terlihat sebagai nama gelar bukan nama pribadinya. Ambetkasih dapat dimaknai wanita dari negeri Sindangkasih dan Kentrik Manik Mayang Sunda dapat dimaknai sebagai permata dari negeri Sunda (maksudnya putri Sunda). Keduanya menunjukkan nama wilayah.

Bagaimana dengan nama Kian Santang? apakah Santang adalah nama pribadinya? Apakah benar Kian Santang adalah penyebutan keliru dari Kian Sancang

Analisis asal-usul kata (etimologis) ‘Santang’ maupun ‘Sancang’ harus dilakukan terlebih dahulu. Seperti pemaparan di atas bahwa gelar Rakian atau Kian diikuti nama tempat. Kita dapat mengenai bahwa ‘Sancang’ adalah nama sebuat tempat di Garut Selatan di pesisir Laut Kidul. Sementara “Santang” tidak kita ketahui bahwa nama itu adalah nama sebuah tempat. Kian disebutkan sebagai singkatan dari “rakian-rakeyan-rakryan” yang dianggap setara dengan kata “raden” dalam bahasa Jawa Baru.Sebenarnya ada perbedaan diantara keduanya. Bila rakryan diikuti nama tempat, sedangkan raden diikuti nama pribadi.

Nama rakryan atau rakyan/rakeyan atau Rakian pada zaman Sanjaya tidak disingkat menjadi “Kian” tetapi menjadi “Rakai” atau “Rake”. Namun dalam Naskah Cariosan Prabu Siliwangi mengenal penyingkatan nama Rarkyan dan Skayan menjadi kyan atau kian atau ken yang digunakan sebagai gelar bagi seorang laki-laki atau perempuan. Gelar Kian atau ken kemudian muncul di Jawa Timur yang kita kenal dengan nama-nama seperti Ken Angrok, Ken Dedes, ken Umang dan lain-lain. 

Setelah Kian Santang, kenapa di zaman sesudahnya tidak ada lagi tokoh yang menggunakan gelar kian? Demikian pula gelar Ken di Jawa Timur pasca zaman ken Angrok tidak muncul lagi.Jika Kian Santang berasal dari nama gelar rakryan atau rakyan/rakeyan atau Rakian, maka seharusnya disebut pula sebagai “Rakai Santang” seperti pendahulunya yaitu Rakai Sanjaya. Di masa setelah Rakai Mataram Sang ratu Sanjaya, maka para penggantinya di Kerajaan Mataram Hindu. Jika Kian adalah sebuah gelar, berarti nama pribadinya adalah Santang (?).

Mari kita lihat struktur pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno atau Medang. Dimana Raja pertamanya adalah Sanjaya. Ia adalah juga raja Sunda ke-2 setelah Sang Tarusbawa atau Sri Maharaja Tarusbawa mengubah nama Kerajaan Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Tentunya, Sanjaya mengatur sistem pemerintahan di Kerajaan Sunda, Galuh, Kalingga dan Mataram (karena ia menguasa negeri-negeri itu).

Sosok Kian Santang ini disebut-sebut sebagai salah seorang putra Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja) dari Nyai Subang Larang. Kian Santang adalah anak bungsu dengan 2 orang kakaknya bernama Rara Santang dan Walangsungsang. Bila kita cermati nama Kian Santang dan kakak perempuannya bernama “Rara Santang”, ada hal yang janggal. Bila diperhatikan dengan seksama, ada 2 orang putra-putri Prabu Siliwangi yang menggunakan nama “Santang” yaitu Kian Santang dan Rara (Roro) Santang. Bila disetarakan bahwa kata Kian adalah Raden dan Rara (roro) adalah Nyai, maka ada sosok ‘Raden Santang’ dan ‘Nyai Santang’. Kedua orang itu namanya sama = Santang? Lebih bingung lagi dengan sebutan masyarakat di zaman sekarang yaitu Raden Kian Santang. Istilah ini tumpang tindih karena gelar raden belum ada di zaman Kerajaan Pajajaran. Gelar raden baru eksis sejak Kekuasaan Sultan Agung Mataram Islam di Yogyakarta. Kemudian menyebarluaskan sastra Kesultanan Mataram Islam ke semua wilayah bawahannya termasuk Tatar Pasundan, kecuali Banten dan Batavia. Gelar stara Raden adalah Tubagus di wilayah Banten.

Dalam cerita rakyat, Kian Santang mengejar Prabu Siliwangi untuk di-Islam-kan. Oleh sebab itu, Kerajaan Pajajaran Ngahiyang dan prabu Siliwangi berubah menjadi maung atau harimau. Mengenai siapa sosok Kian Santang masih misteri hingga sekarang. Dalam Wawacan Walangsungsang, sama sekali tidak menceritakan Kian Santang. Bahkan ada sumber lain mengisahkan bahwa Walangsungsang menceritakan kisah Kian Santang kepada umatnya. Oleh karena itu, ada hipotesa bahwa Kian Santang adalah sosok imajiner yang menggambarkan kisah Walangsungsang. Dari berbegai sumber menerangkan bahwa Walangsungsang memiliki banyak nama antara lain Maulana Ifdil Hanafi, Haji Tan Eng Hoat, Haji Abdullah Iman atau Pangeran Cakrabuana atau Mbah Kuwu Sangkan atau Sunan Rohmat atau Sunan Godok atau Kean Santang

Kisah lainnya terkait Kian Santang berjumpa dengan Sayidina Ali bin Abi Thalib serta Rasulullah dan para sahabat alinnya tidak kita bahas. Kisah-kisah seperti ini tidak dapat dijadikan sumber historis. Namun demikian, dalam kisah babad ada sebuah tujuan yang dimaksudkan oleh penulisnya. Diantaranya sebagai pengukuhan syiar agama dan penggambaran bahwa ajaran yang dibawa Kian Santang otentik dengan menggambarkan bahwa Kian Santang sendiri bertatap muka langsung dengan Rasulullah. 

Dimana makam Pangeran Walangsungsang? Ada Keramat Talun Pangeran Cakrabuana Mbah Kuwu Sangkan di Desa Cirebon Girang, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon terdapat 2 makam kramat. Juru bicara Keramat Talun, Mochamad Tohir menuturkan, Pangeran Cakrabuana merupakan putra mahkota Kerajaan Pajajaran, berjuluk Pangeran Walangsungsang. Karena berbeda prinsip dalam hal agama dengan ayahnya, Prabu Siliwangi, pada usia 14 tahun Pangerang Walangsungsang keluar dari Kerajaan Pajajaran menuju Godog di Garut. Makam itu bukan bukan makam Mbah Kuwu Sangkan tetapi makam santri untuk membantu Mbah Kuwu dalam menjalankan syiar Islam.

Bagaimana dengan Kian Sancang? Asal-usul nama Kian Sancang berasal dari cerita rakyat secara tutur tinular. Demikian adanya untuk kisah yang terjadi diluar istana tidak ditulis dalam catatan resmi. Bahkan penulisan babad, serat dan kidung pun bersifat istana sentris. Sosok Kian Sancang adalah nama seorang pemuda dari sebuah tempat bernama Sancang. Konon ia turunan Maharaja Kertawarman Raja Tarumanagara dari seorang perempuan kasta rendah (sudra) di tepi sungai Cikaengan Hutan Sancang bernama Nhay Arum honje.

Dari nama Kian Sancang ini sangat lekat dengan nama “leuweung Sancang” atau hutan Sancang. Menurut cerita rakyat pakidulan, bahwa sosok Kian Sancang berbeda dengan Kian Santang. Warga Sunda sering mempertukarkan kedua nama ini sebagai satu sosok. Kian Santang hidup pada abad ke-15, sedangkan Kian Sancang hidup pada abad ke-7. Rakeyan Sancang (lahir 591 M) putra Raja Kertawarman (Kerajaan Tarumanagara 561 – 618 M). Rakeyan Sancang inilah yang sering dirancukan dengan putra Sri Baduga Maharaja, yaitu Raja Sangara, yang menurut Babad Godog dan Wawacan Keyan Santang (WKS) yang terkenal dengan sebutan Prabu Kiansantang atau Sunan Rohmat Suci.

Penulisan nama Kian Sacang diduga sama dengan Rakryan Sancang. Penulisan nama ini sesuai dengan kaidahnya bahwa gelar Rakryan atau Kian diikuti nama tempat yaitu Sancang. Dengan demikian tidak diketahui nama pribadinya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.