Sejak Romawi Kuno Nama Sunda dan Jawa Dikenal, Dimana Sundaland?

oleh -1.717 views
Temuan sungai purba Sundaland sebagai pintu masuk untuk membuktikan dugaan kalau Benua Atlantis yang hilang berada di Indonesia (Foto: Tim Katastropik Purba)

CARUBAN NAGARI-Banjir besar melanda kawasan paparan Sunda (Sunda Land) ribuan tahun lalu. Akibat banjir besar itu, ribuan orang berpindah tempat tinggal membawa serta kebudayaan dan peradaban mereka ke daerah baru.

“Migrasi inilah yang menyebabkan persebaran budaya dan peradaban dari kawasan tersebut ke daerah lain, ” jelas Stephen Oppenheimer, penulis buku Eden in the East, dikutip carubannagari.radarcirebon.com, Selasa (23/2).

Sundaland adalah hamparan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Langka, dan Indonesia bagian Barat meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa dan terus ke arah timur. Atlantis berpusat di Indonesia bagian barat sekarang. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Santos meyakini bahwa benua Atlantis adalah sebuah pulau besar bernama Sundaland, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam diterjang banjir besar seiring berakhirnya zaman es.

Sekitar 20.000 tahun yang lalu pada puncak zaman es terakhir Sumatera, Kalimantan dan Jawa pernah menjadi satu daratan yang jauh lebih besar yang terhubung ke Asia yang disebut Sundaland.

Dalam penelusuran carubannagari.radarcirebon.com, Arnold HL Heeren dalam bukunya The Historic Research tahun 1846, mengatakan Sunda dan Jawa sudah dikenal sejak zaman Romawi Kuno. Bukan main! Adalah geografer Romawi bernama Claudius Ptolemy (100-170 Masehi) yang menulis ada tempat bernama Sinde (Sunda) dan Jabadia (Javan-Dwipa/Jawadwipa/Jawa) di wilayah bernama Aurea Chersonesus (Golden Peninsula).

Kemudian ada beberapa ilmuwan Belanda yang mulai meneliti Sundaland antara lain Gustaf Molengraff dan Reinout Willem van Bemmelen di paruh pertama abad ke-20. Bemmelen disebut-sebut yang pertama mengusulkan nama Sundaland di forum ilmiah. Sampai sekarang, semua penelitian multi disiplin bersepakat untuk menamai benua tenggelam di Indonesia ini sebagai Sundaland.

Bagaimana akhirnya Sundaland bisa tenggelam? Yang jelas bukan mendadak tenggelam. Yahdi mengatakan, benua Sundaland tenggelam pelan-pelan dari 18 ribu tahun lalu pada masa Last Glacial ke masa Holocene sekitar 12.000 tahun silam. Itu semua akibat pemanasan global dimana permukaan air laut naik 20 mm/tahun. Benua Sundaland pun akhirnya tenggelam sepenuhnya, di masa Holocene 12 ribu tahun silam.

“Di awal Holocene sekitar 12.000 tahun yang lalu, muka laut berada sama dengan muka laut sekarang,” kata dia.

Sundaland memiliki ukuran lebih besar dari semua gabungan negara-negara Eropa saat ini. Namun yang menarik adalah tiga daerah besar itu memiliki beberapa spesies fauna yang unik untuk masing-masing pulau seperti dua spesies orang utan yang berbeda.

Penelitian dari James Cook University di Cairns, Australia, menggunakan kotoran kelelawar untuk menngungkap mengapa ketiga daerah memiliki banyak keanekaragaman hayati yang berbeda, padahal mereka dahulu merupakan satu daratan.

Penelitian yang diterbitkan di Scientific Reports ini mengungkapkan bahwa salah satu teori yang bisa menjelaskannya adalah koridor sabana.

Koridor sabana adalah ruang atau daratan yang kini berada di bawah laut. Menurut penelitian ini sabana atau rumput-rumput torpis menjadi bagian dominan dari Sundaland selama zaman es.

Dalam The Conversation para peneliti mengetahui jejak rumput tropis itu dari kotoran yang ditinggalkan kelelawar setinggi 3 meter yang berlokasi di Gua Saleh, Kalimantan, yang dalam prakiraan kotoran itu bisa menjelaskan kondisi selama 40.000 tahun yang lalu.

“Kotoran kelelawar sangat informatif dan terutama di daerah tropis, di mana iklim dapat memberikan beberapa mode investigasi,” kata Chris Wurster.

Menurut jejak dari kotoran kelelawar di sekitar Gua Saleh, wilayah yang sekarang menampilkan hutan hujan yang subur, dahulunya pernah didominasi oleh rumput tropis.

“Dikombinasikan dengan studi gua lainnya di wilayah ini, hal ini menuntun kami untuk mendukung teori koridor, dan juga memberi kami kepercayaan mengenai luasnya koridor,” jelas Wurster.

Adanya koridor sabana menjadi penyebab mengapa tiga daerah itu memiliki spesies berbeda. Karena koridor sabana bertindak sebagai penghalang bagi spesies hutan hujan yang ingin bergerak melintasi ke sumatera, Jawa, kalimantan atau Sundaland.

Namun di sisi lain, koridor sabana berfungsi sebagai jembatan untuk spesies yang sama dengan lingkungan non-hutan terbuka di utara dan selatan khatulistiwa.

Bahkan koridor sabana ini serta kotoran kelelwar mungkin menjelaskan bagaimana manusia saat itu bisa berhasil bergerak begitu cepat dan terus ke Sahul (Australia dan Papua New Guinea), benua yang dulu berdampingan dengan Sundaland.

“Koridor sabana, jauh lebih mudah dilalui daripada hutan hujan tropis, mungkin membantu menjelaskan bagaimana orang bergerak relatif cepat melalui wilayah ini dan terus ke Australia dan Papua lebih dari 50.000 tahun yang lalu,” Wurster seperti dilansir Sciencedaily. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *