Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara Ungkap Riwayat Syekh Lemah Abang

oleh -199 views
Naskah Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara

CARUBAN NAGARI-Setelah kedatangan Syekh Lemah Abang di Pulau Jawa, banyak para Pemuka Agama Islam tidak senang kepadanya, karena walaupun sama-sama Islam namun ia selalu berbuat aib dan selalu menjadi celaan. 

Syekh Lemah Abang dilahirkan di Malaka di Sanghyang Hujung, ia bersaudara dengan Syekh Datuk Kahfi, Sunan Ampel Denta, Syarif Hidayat, Pangeran Panjunan, dan para wali lainnya di Pulau Jawa. 

Ketika kecil bernama Abdul Jalil, pada usia remaja pergi ke Parsi lalu ke Bagdad, di sana ia berguru kepada penganut Syiah Muntadar, oleh karena itu ia penganutnya. Setelah pandai ia pergi ke Ghujarat dan kembali lagi ke Malaka dengan sebutan Ki Syeh Datuk Jabaranta dan beristri dengan perempuan Ghujarat. Pada perkawinannya beranak Ki Datuk Fardhun/Ki Datuk Bardut. 

Bersama Syeh Datuk Kahfi, ia tinggal di Gunung Amparan lalu di Cirebon Ghirang dan mendapatkan banyak murid lalu ke Pengging dan Bupati Pengging yaitu Ki Ageung Kebo Kenongo menjadi muridnya lalu ke Panjunan di Cirebon. Maka banyaklah muridnya di sana, ia juga pernah tinggal sebentar di Palembang. 

Oleh para Wali yang sembilan ia dimusuhi, karena ia mengucapkan perkataan yang tabu dan berhenti melakukan kewajibannya yaitu syariat Rasul. 

Perkataannya itu adalah: Bahwa saya adalah Tuhan Yang Esa, Tuhan Yang Esa ada di hatiku maka para wali memusuhinya, apalagi ia bersama Ki Ageung Pengging berkehendak mendirikan kerajaan lalu menyerang Demak. 

Ia juga berkehendak mengalihpujakan semua anutan menjadi Syiah dan berkehendak menjadi raja di Pulau Jawa. 
Lalu Ki Ageung Pengging dibunuh oleh Sunan Kudus, semua murid Syekh Lemah Abang melarikan diri ke Cirebon, sedangkan Syeh Lemah Abang berlindung di Cirebon Ghirang. 

Berita ini telah terdengar oleh Raden Patah, maka dikirimlah Sunan Kudus berikut bala tentaranya sebanyak 700 orang ke Cirebon untuk menyampaikan surat dari Sultan Demak kepada Sunan Cirebon yang isinya agar Sunan Carbon dapat menangkap dan membunuh Syeh Lemah Abang. 

Permintaan Sultan Demak tersebut disetujui oleh Sunan Cirebon, lalu Sunan Kudus diperintah oleh Sunan Jati untuk pergi ke Cirebon Ghirang. 

Akhirnya, Syeh Lemah Abang ditangkap berikut pengikutnya lalu dibawa ke Mesjid Besar Sang Ciptarasa, di dalam mesjid terjadi perang mulut antara Syeh Lemah Abang dengan para Wali hingga marahlah para Wali kepadanya. Maka diputuskanalah bahwa Syeh Lemah Abang dikenai hukuman mati, lalu Sunan Kudus diperintah untuk membunuhnya. 

Setelah Sunan Kudus membunuh Syekh Lemah Abang, jenazahnya dikuburkan di kampung Kemlaten sedangkan semua muridnya dilepaskan dan menjadi pengikut Syeh Syarif Hidayat. 

Banyak orang yang memuja makam Syeh Lemah Abang, oleh karena itu Sunan Carbon menyuruh pengawalnya untuk memindahkannya ka Gunung Amparan, sedangkan makamnya digantikan dengan Aswa Cemanireng. 
Lalu para pengikut Syiah dikumpulkan di Kemlaten, mereka meminta kepada Sunan Cirebon agar mayat Syeh Lemah Abang dimakamkan di Pengging, oleh Sunan Cirebon disetujuinya. 

Namun sangat terkejutnya para pengikut Syeh Lemah Abang ketika melihat makam berisi Aswa Cemanireng, lalu Sunan Cirebon memberi nasehat kepada mereka semua: Janganlah kalian memuja mayat ini, tetapi yang harus dipuja adalah Hyang Widi, ketahuilah keadaan di bumi ini bahwa manusia harus ingat akan kewajibannya yaitu memuja Hyang Widi, karena tidak ada manusia di seluruh dunia ini yang kuasa menandingi kekuasaan-Nya. Setelah itu banyak murid Syeh Lemah Abang menjadi murid Sunan Cirebon.  (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.