Pertikaian Antara Saudara, di Balik Nama Sungai Cipamali

oleh -97 views
Sungai Cipamali

CARUBAN NAGARI-Bagi yang sering atau pernah melintas di Jalur Pantura Jawa baik dari Jakarta ke Semarang ataupun ke Jogja atau sebaiknya, tentu kita tidak asing dengan Brebes.

Daerah yang terletak di ujung barat Jawa Tengah yang berbatasan dengan Cirebon sebagai pintu gerbang Jawa Barat, mungkin akan lebih familiar jika disebutkan telor asin dan atau bawang merah, sebagai komoditas utama Kabupaten Brebes.

Melintasi Kabupaten Brebes, dari arah barat, persis sebelum masuk ke kota Brebes, kita akan menjumpai sebuah sungai yang disebut sungai Pemali. Konon, sungai ini sebagai pagar yang melindungi masyarakat Brebes dari serangan-serangan astral yang bermaksud jahat. Kiriman semacam teluh dan santet akan jatuh ke dalam sungai Pemali. 

Terdapat sebuah dongeng  sasakala yang menceritakan terjadinya nama Sungai Cipamali (pamali ‘pantang’), Sasakala Cipamali dikumpulkan oleh Satjadibrata tahun 1946 dalam sebuah bunga rampai dongeng,

Sang Permana di Kusuma adalah raja Galih Pakuan yang terkenal sangat adil dan bijaksana. Ia belum juga berputra, baik dari istri pertama yang bernama Naganingrum maupun dari istri kedua yang bernama Dewi Pangrenyep.

Pada suatu waktu, Sang Permana pergi bertapa. Kerajaan beserta isinya diserahkan kepada Arya Kebonan. Sebelum pergi, ia memberikan pesan kepada penggantinya agar berbuat adil dan jangan mengganggu kedua istrinya. Arya Kebonan menyanggupi. Selanjutnya, Sang Permana pergi ke Gunung Padang untuk bertapa. la mengganti namanya menjadi Ajar Sukaresi.

Ternyata Arya Kebonan, yang sekarang sudah berganti nama menjadi Raden Barma Wijaya Kusuma, tidak menepati janjinya. Suatu hari Naganingrum dan Dewi Pangrenyep mendapat firasat akan mendapat putra. Firasat tersebut ternyata tepat, sebab sembilan bulan kemudian Dewi Pangrenyep melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Aria Banga.

Meskipun sudah sepuluh bulan, Naganingrum belum juga melahirkan. Tiba-tiba sang raja mendapat firasat bahwa bayi yang belum lahir tersebut akan menimbulkan malapetaka bagi dirinya. Ia menyuruh Dewi Pangrenyep agar nanti bilamana Naganingrum melahirkan, bayinya harus segera dibuang.

Bayi yang lahir ternyata laki-laki. Kemudian, ía dimasukkan ke dalam kandaga ‘sejenis kotak’ bersama sebutir telur. Dewi Naganingrum selanjutnya diusir dari keraton.

Bayi yang dihanyutkan ke sungai Citanduy tersebut akhirnya ditemukan oleh Aki dan Nini Balangantrang, sampai menjadi seorang pemuda. Ia bernama Ciung Wanara. Telur yang menemaninya ketika hanyut menetas menjadi ayam jantan setelah dierami ular yang bernama Nagawiru.

Ciung Wanara bermaksud menyabung ayam dengan raja. Setelah sampai di kerajaan, raja menerima tantangan Ciung Wanara untuk menyabung ayam. Bila ayam raja kalah, Ciung Wanara berhak mendapatkan setengah dari luas daerah kerajaan beserta isinya. Bila ayamnya sendiri kalah, Ciung Wanara harus menyerahkan jiwa kepada raja. Ternyata ayam milik Ciung Wanara menang sehingga ia berhak atas setengah dari wilayah kerajaan. la menjadi raja di wilayahnya.


Setelah menjadi raja, Ciung Wanara bermaksud membalas dendam kepada Raden Galih Barma. Dengan suatu tipu muslihat, ia berhasil memenjarakan Raden Galuh Barma dan Dewi Pangrenyep yang dianggap telah menyengsarakan dirinya berikut ibu kandungnya.

Aria Banga tidak tinggal diam. Terjadilah perkelahian antara Ciung Wanara dengan Aria Banga. Perkelahian mereka berlangsung sangat seru dan cukup lama. Pada suatu kesempatan Ciung Wanara berhasil melemparkan Aria Banga ke seberang sungai.

Pada saat itulah mereka sadar bahwa perkelahian di antara dua bersaudara tersebut tidak akan berguna. Mereka berhenti berkelahi. Sungai yang memisahkan mereka selanjutnya diberi nama Cipamali sebagai tanda peringatan yang bermakna: pertikaian dengan saudara harus dihindarkan sebab termasuk pamali ‘pantang’. Aria Banga terus pergi ke sebelah timur, sedangkan Ciung Wanara terus pergi ke barat. Ibu kota negara Galih Pakuan oleh Ciung Wanara dipindahkan ke sebelah barat, kemudian diberi nama Pakuan Pajajaran.

Nama-nama tokoh dalam Sasakala Cipamali menyebutkan para raja penguasa Kerajaan Galuh. Nama tersebut yaitu: Ciung Wanara (gelar raja), Arya Banga, Dewi Pangrenyep, Dewi Naganingrum (dalam sejarah keduanya istri Permana Dikusumah penguasa Kerajaan Saunggalah). Raden Galih Barma atau Raden Barma Wijaya Kusumah adalah Tamperan Barmawijaya atau disebut juga Raja Bondan. Ia putera Rahyang Sanjaya Harisdarma, Raja ke-2 Kerajaan Sunda dan Pendiri kerajaan Mataram Kuno (Kerajaan Kalingga, Jawa tengah). Sementara itu, Aki Balangantrang adalah Bimaraksa (patih kerajaan Galuh) yang menyingkir pasca-penyerangan Rahyang Sanjaya ke istana Kerajaan Galuh, sehingga menewaskan Prabu Purbasora.

Dalam sisi alur, kisah berupa siloka dan ada bagian yang terbalik menurut catatatan sejarah. Sisi siloka dalah sabung ayam jago. Kisah sebenarnya adalah peperangan yang terjadi antar raja dalam sebuah perang besar 3 kerajaan (Sunda-Galuh-Kalingga) yang disebut “Gotrayudha”. Aktos yang diposisikan terbalik adalah Ciung Wanara dan Arya banga. Ciung Wanara dalam sejarah adalah Raja Galuh dan Arya Banga adalah Raja Sunda. Ini hasil kesepatan 3 raja (Ciung Wanara, Arya Banga, Sanjaya) dibawah arah Resi Demunawan dari Galunggung. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.