Mengungkap Diagram Magis di Tanah Sunda

oleh -150 views
Batu Yantra I Foto: Mochamad Ficky Aulia - nusaputra.ac.id

CARUBAN NAGARI-Di Indonesia budaya eksternal tidak diterima begitu saja, proses sinkretisme terjadi di dalamnya melalui proses yang panjang, suatu pengadopsian budaya luar oleh budaya nenek moyang.

Jika kita menyimak contoh kasusnya seperti pola Islam Kejawen, bagaimana Sultan menghadiri suatu ritual mengenakan pakaian batik bercorak kaligrafi ayat kitab suci, atau ketika Raden Saleh menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Jawa semasa di Belanda, dan Tradisi Hindu-Budha yang meninggalkan artefaknya di beberapa bagian tanah-tanahIndonesia yang disertai mitos dan serat berbahasa Sunda dan Jawa. Ini suatu cerminan bahwa budaya terjadi atas konsepsi religi. Seluruh agama menghasilkan tradisi kesenian itu sendiri, termasuk Tantra yang meninggalkan jejaknya melalui artefak batu berukir. 

Baca: Mencari Jejak Kerajaan Sunda Kuno

Estetika seni tidak berdiri secara otonom, ia dijangkit oleh variable-variabel budaya secara sistemik. Batu Nyantra adalah salah satu contoh sebuah produk budaya yang kini berada di museum Sribaduga Bandung. Ada dua batu yang memiliki  ukiran Mandala. Menurut Sutresno seorang staf pemandu museum, batu ini telah berada di Museum Sribaduga pada tahun 1980 atas pemindahan dari MUSKALA (Museum Purbakala) yang sebelumnya ditemukan oleh seorang sejarawan Sunda berikut akademisi IKIP Bandung yang kemudian menetap di Bogor –yaitu Profesor Saleh Danasasmita pada tahun 1979. Beliau pernah pula menuliskan kajian tentang salah satu batu tersebut di jurnal Lembaga Kebudayaan UNPAD pada tahun 1982 berjudul “Keterangan tentang ‘Batu Berukir’ dari Tapos Ciampea Bogor.” Inilah yang menjadi pengembangan dan kritik kajian oleh penulis dengan cara mengkaji ulang motif berukir batu Nyantra tersebut dan mengidentifikasi batu lainnya yang diduga juga merupakan medium spiritual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *