Menelusuri ‘Jalan Tol’ Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi

oleh -426 views
Jalan dari Wanayasa ke Bandung Tahun 1920-1935 (Foto: Tropenmuseum)

CARUBAN NAGARI-Seorang Maharaja Sunda santer terkenal Sri Baduga Maharaja sebagai Prabu Siliwangi, tentu dikenang atas jasa besarnya yang berpengaruh bagi rakyat Tatar Pasundan. Jasa itu dirasakan oleh seluruh rakyatnya sebagai sebuah warisan (legacy). Sebelum kemerosotan kepemimpinan raja-raja berikutnya hingga burak tahun 1579 M. Kita telusuri apa saja mahakarya Prabu Siliwangi untuk negeri Sunda Pajajaran?

Pada saat Sri Baduga Maharaja berkuasa (1482-1521 Masehi), dilakukan rekonstruksi tata kota di Pakwan Pajajaran dengan membuat parit untuk memperkuat keamanan. Hal ini dilakukan karena tempat ini dijadikan sebagai pusat politik untuk seluruh Tatar Sunda, yang awalnya berada di kompleks Keraton Surawisesa (Galuh Pakwan), demikian diungkap Lubis, Nina Herlina et al. 2003, Sejarah Tatar Sunda”. Jilid I. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran.

Posisi Pakuan Pajajaran sebagai ibukota yang dipilih harus memiliki kelebihan dari sisi pertahanan dan keamanan yang sangat urgent saat itu pasca runtuhnya Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda juga banyak menerima pengungsi para pejabat, keluarga bangsawan dan rakyat Majapahit yang meminta perlindungan.

Kota Pakwan Pajajaran selain dari prasasti dan naskah, terdapat di dalam laporan para penjelajah VOC, yaitu Scipio tahun 1687, Adolf Winkler tahun 1690, dan Abraham van Rieebeck tahun 1703, 1704, dan 1709.

Dikutip dari Darsa, Undang A. dan Edi S. Ekadjati. 2003. Fragmen Carita Parahyangan dan Carita Parahyangan, dalam Tulak Bala; Sistim Pertahanan Tradisional Masyarakat Sunda dan Kajian lainnya megenai Budaya Sunda. Bandung: Pusat Studi Sunda, prasasti Batutulis menceritakan bahwa Sri Baduga memperbaiki kota dan memperkokoh pertahanan dengan membuat parit, serta membangun sebuah telaga yang disebut Talaga (Wa)Rena Mahawijaya atau Sanghiyang Rancamaya, lengkap dengan sebuah pulau di tengah danau yang bernama Bukit Badigul 

Talaga (Wa)Rena Mahawijaya merupakan tempat suci yang dikeramatkan, telaga yang di tengahnya terdapat Bukit Badigul sebagai tempat menyatakan rasa syukur (berdoa). Pada saat sekarang tempat ini sudah berubah menjadi perumahan elit dan lapangan golf demikian diungkap Lubis, Nina Herlina et al. 2003, Sejarah Tatar Sunda”. Jilid I. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran. Selain itu Talaga (Wa)rena Mahawija berfungsi sebagai pengendali bencana banjir yang terjadi di wilayah hilir yaitu Sunda Kalapa (Jakarta sekarang).

Pengendalian banjir telah dilakukan jauh sebelum kerajaan Pajajaran ada yaitu di zaman Tarumanagara dengan memperbaiki sungai di zaman Maharaja Purnawarman. Talaga (wa)rena Mahawijaya mengatur aliran air sungai Cipaku dan Sungai Cisadane. Mengacu pada pembagian klasifikasi lahan dalam Warugan LmahTalaga (wa)Rena Mahawijaya berada pada posisi Sri Madayung, karena letaknya yang berada di antara dua aliran sungai, yaitu Sungai Cipaku (sungai kecil) dan Sungai Cisadane (sungai besar).

Pengelolaan dan pemanfaatan daerah aliran sungai harus dilakukan dengan pendekatan yang terpadu, yang mensinergikan pengelolaan/pemanfaatan lahan di kawasan dataran tinggi dengan perencanaan pemanfaatan tata guna lahan yang ‘ekologis’, dengan penerapan ilmu rekayasa, dan pertimbangan aliran air yang mengikuti lereng dari dataran tinggi ke dataran rendah. Proses yang terpadu tersebut adalah sebagai langkah yang tepat, karena menempatkan lingkungan alam sebagai subjek, karena bagaimanapun kekuatan alam sampai kapanpun tidak akan bisa dilawan.

Talaga (wa)Rena Mahawijaya yang sampai saat ini dipercaya sebagai tempat ritual keagamaan hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan fungsi yang dibayangkan dan menjadi harapan oleh arsiteknya. Dari perspektif ilmu rekayasa (teknik lingkungan, arsitektur lansekap, dan teknik sipil pengairan), danau buatan (embung/waduk) ini bisa menjadi area tangkapan limpasan air demi meredam bencana banjir, bahkan sebagai cadangan air ketika musim kemarau, sebagai area rekreasi alam, dan fungsi lainnya sesuai dengan perspektif apa yang kita pakai untuk melihatnya.

Apa yang telah dilakukan oleh Sri Baduga sangat penting untuk direnungkan terutama oleh para pemegang kekuasaan dan pembuat kebijakan. Karena bagi para pemimpin penting untuk berpikir secara luas dan out of the box serta belajar dari sejarah para pemimpin di masa lalu.

Bagian lain yang sangat penting dalam pembangunan infrastruktur zaman Pajajaran, adalah tentang jalan raya. Kita sering mengabaikan sejarah secara teknik bahwa kisah perpindahan dengan iring-iringan besar keluarga kerajaan dari Istana Surawisesa di Kawali Galuh menuju Pakuan Pajajaran dilakukan melalui apa? Tentu adanya sebuah jalan. Jalan ini menurut Amir Sutaarga adalah “Pajajaran Highway” atau jalan tol-nya zaman Pajajaran. Prasasti Batu Tulis Bogor sedikit menyebutkan proyek pengerasan jalan. 

Sutaarga menyebutkan bahwa rute Highway Pajajaran adalah: Kawali – Talaga – Karangsambung – Tomo – Cisalak – Jalancagak – Sagalahérang – Wanayasa – Cikao – Tanjungpura – Warunggedé – Cibarusah – Cileungsi – Pakuan. Jika dilihat petanya di zaman sekarang ini melewati Kabupatén Ciamis, Majalengka, Sumedang, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi, dan Bogor. Jika kita sekarang malukan napak tilas, matak capé atuh

Kerajaan Pajajaran memiliki 6 Pelabuhan Utama untuk mendukung pereknomian negara. Tentu saja buka hanya pelabuhan yang dimiliki, Kerajaan Sunda Pajajaran juga memiliki armada kapalnya sendiri. Ibarat kita punya garasi mobil, juga idelnya memiliki mobil untuk diparkirkan di garasi itu. Kapal Besar milik Kerajaan Sunda Pajajaran yaitu Kapal Jung tingkat sembilan yang dalam bahasa Jawa disebut “Jung Sasanga Wagunan ring Tatarnagari tiniru” – Kapal Jung bertingkat sembilan. Sebelum tragedi Bubat tahun 1357, Raja Sunda dan keluarganya datang di Majapahit setelah berlayar di laut Jawa menggunakan kapal-kapal joung hibrida Cina-Asia tenggara bertingkat sembilan (Bahasa Jawa kuno:Jong Sasanga Wagunan ring Tatarnagari tiniru).

Kapal Jung milik Kerajaan Sunda Pajajaran adalah kapal hibrida yakni mencampurkan teknik China dalam pembuatannya, yaitu menggunakan paku besi selain menggunakan pasak kayu dan juga pembuatan buritan tumpul/datar (transom stern).


Niccolò da Conti dalam perjalanannya di Asia tahun 1419-1444, mendeskripsikan kapal yang jauh lebih besar dari kapal Eropa, yang mampu mencapai berat 2.000 ton, dengan lima layar dan tiang. Bagian bawah dibangun dengan tiga lapis papan, untuk menahan kekuatan badai. Kapal tersebut dibangun dengan kompartemen, sehingga jika satu bagian hancur, bagian lainnya tetap utuh untuk menyelesaikan pelayaran.

Di Bidang Keagamaan dan Politik pun, di zaman Prabu Siliwangi dikenal sangat stabil dan berimbang yang disebut Pajajar-Pajajaran. Menyatunya Sub-etnis Galuh dan Sunda dengan identitas sebagai Warga Sunda (sebagai entitas politik kerajaan) dan penerimaan yang baik serta pelindungan terhadap para pengungsi Majapahit pimpinan Raden Baribin di Kawali Galuh. Tidak ada etnis tertentu atau agama tertentu yang dibedakan. Karena sejatinya Tatar Pasundan, sejak lama telah dihuni berbagai etnis. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *