Mencari Terang Petengnya Sultan Matangaji (Bagian Ketiga)

oleh -75 views
Simbol Banten di Kraton Kasepuhan tahun 1912 (KITLV)

NAMA Matangaji ditengarai berasal dari nama Desa Matangaji, yang kini masuk ke dalam Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon. Nama aslinya Sultan Shofiuddin.

Baca:

Mencari Terang Petengnya Sultan Matangaji (Bagian Pertama)

Mencari Terang Petengnya Sultan Matangaji (Bagian Kedua)

Menurut naskah Carang Satus, yang memiliki kesamaan konten dengan Carub Kandha Naskah Pulosaren, dahulu, Sultan Shofiuddin kerap bersemedi atau bertafakur di Desa Matangaji, mengikuti jejak para wali. Barangkali karena itu sehingga Sultan Shofiuddin juga dikenal dengan sebutan Sultan Matangaji – sama halnya dengan Sunan Gunung Jati (nama asli Syekh Syarif Hidayatillah), karena kerap berzikir di Gunung Jati.

Desa Matangaji, pada peraturan tertanggal 13 Maret 1809, sebagai salah satu distrik yang berada di bawah kekuasaan Sultan Anom. Kala itu keseluruhan luas pertanian Sultan Anom mencapai 4.304 jung (1 jung 28.000 meter per segi), dengan total penduduk 76.622 jiwa.

Setiap tahun, per distrik (12 distrik), termasuk Distrik Matangaji, diwajibkan mengirim upeti beras sebanyak 2000 koyan (per koyan 1853
kg) dan membuat surat pengakuan hutang 30.000 ringgit.

Garis silsilah Sultan Matangaji atau Sultan Shofiuddin terhubung hingga ke Syekh Syarif Hidayatillah atau Sunan Gunung Jati, sebagaimana nasab sultan atau keluarga keraton Cirebon pada umumnya. Syekh Syarif memiliki sembilan istri (ada yang berpendapat lebih). Satu di antara istrinya bernama Ratu Tepa Sari. Nasab Sultan Matangaji melalui garis ini.

Di dalam naskah Sejarah Rante, pada Pupuh Megatruh (35), dijelaskan silsilah Sultan Matangaji, dimulai dari Abdul Makarimi Syamsudin, berputra Sultan Jamaludin, berputra Kanjeng Sultan Tajil Arifin, berputra Sultan Sena Muhammad Zaenidin (Sultan Sepuh IV, Raja Sena), dan berputra Sultan Matangaji. Silsilah berhenti sampai Sultan Matangaji, lalu dilanjutkan oleh Sultan Muda Kanjeng Muhammad Hasanudin, dilanjutkan lagi oleh putra Sultan Muda, yang bernama Sultan Joharudin. Kedudukan Sultan Joharudin lalu digantikan oleh Sultan Syamsudin.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.