Mencari Terang Petengnya Sultan Matangaji (Bagian Kelima)

oleh -78 views
Gerbang Kraton Kasepuhan tahun 1912 (KITLV)

RADEN Kertawijaya (uak Dalem Indramayu Raden Semangun) dan Raden Welang, diberi tugas untuk menjaga perbatasan di Indramayu, dengan membawa 40 prajurit. Oleh Raden Semangun, Raden Kertawijaya diminta bantuannya untuk menumpas pemberontakan yang dipimpin oleh Bagus Rangin dan pamannya, Bagus Serit. Segala upaya yang telah dilakukan oleh Dalem Indramayu mengalami kegagalan, bahkan Patih Astrasuta tewas dikeroyok oleh para pemberontak. Raden Kertwijaya bersedia membantunya terutama karena alasan masih keluarga, meskipun belum mendapatkan restu dari Sultan Matangaji.

Raden Kertawijaya melihat persoalan pemberontakan menjadi kewajiban serdadu Batavia untuk menumpasnya. Namun para serdadu justru diperintahkan oleh Daendels berdiam diri di Benteng Palimanan. Hal itulah yang membuatnya marah besar. Puluhan serdadu akhirnya dibantai oleh Raden Kertawijaya, Raden Welang, dan 40 prajurit pengikutnya. Seorang serdadu yang selamat mengirimkan surat kepada Daendels. Setelah membacanya, Daendels geram, mengeluarkan sumpah-serapah, lalu mengirimkan surat kepada Sultan Matangaji, meminta untuk sesegara mungkin menangkap pelakunya.

Soldat ingkang ambakta. Gegantjangan lawan niki. Kanggé kontjuk ing
Gusti Gupernur Djéndral. Mapan sampun tjaos karsa. Serat sampun ing
gusti. Anulia énggal binuka. Serat binanting tumuli. “Loh babi, Tjerebon
andjing. Maén kurang adjar iku.” Nulia damel serat énggal. Kanggé
Sultan Tjerebon mangkin. Mapan andjuluk katangkepé parusuhan. Radén
Karta lan Dén Welang kang wis nganiaja. Anang Bénténg Palimanan.
Akéh soldat pada mati.

(Serdadu yang membawa [surat]. Dengan segera. Buat Gusti Gubernur
Jenderal. Maka sudah diberikannya. Surat sudah pada Gusti [Daendels].
Segara dibukanya. Kemudian surat dibanting. “Loh, Cirebon babi, anjing.
Kamu bermain kurang ajar.” Lalu [Daendels] segera membuat surat. Buat
Sultan Cirebon. Yaitu meminta pemberontak ditangkap. [Sebab] Raden
Kertawijaya dan Raden Welang sudah menganiaya [para serdadu]. Di
Benteng Palimanan. Banyak serdadu yang tewas)

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.