Mencari Terang Petengnya Sultan Matangaji (Bagian Keenam)

oleh -66 views
Kraton Kasepuhan Tahun 1920 (Tropenmuseum)

SULTAN Matangaji melihatnya sebagai peluang untuk membunuh Daendels. Raden Kartawijaya dan Raden Welang diminta oleh Sultan Matangaji menyerahkan diri. Sesampainya di Batavia mereka harus mengamuk, memporak-porandakan bala serdadu Batavia. Sasaran utamanya adalah Daendels: membunuhnya. Namun pada akhirnya, mereka berdua tewas ditembak oleh Daendels.

Baca:

Mencari Terang Petengnya Sultan Matangaji (Bagian Pertama)

Mencari Terang Petengnya Sultan Matangaji (Bagian Kedua)

Mencari Terang Petengnya Sultan Matangaji (Bagian Ketiga)

Mencari Terang Petengnya Sultan Matangaji (Bagian Keempat)

Mencari Terang Petengnya Sultan Matangaji (Bagian Kelima)

Tidak lama kemudian Cirebon mendapatkan serangan dari sejumlah serdadu Batavia. Sultan Matangaji dengan didampingi Pangeran Suryakusuma, Pangeran Martakusuma, Pangeran Pekik, Pangeran Logawa, dan Penghulu Dulkasim, menyambut kedatangan serdadu. Segerombolan pasukan Batavia berhasil ditumpas. Mereka lari kocar-kacir, dipukul mundur oleh pasukan Pangeran Matangaji.

Serdadu Batavia lalu meminta bantuan kepada Sultan Mataram. Dengan hak prerogratifnya, oleh karena Cirebon berada di bawah kekuasaan Mataram, Sultan Mataram membatasi ruang gerak bala pasukan Sultan Matangaji, dengan mengurangi luas wilayah kekuasaannya menjadi 1000 pasagi. Pada saat itu pula kedudukan dalem dihilangkan. Indramayu sebagai pedaleman yang berada di bawah kekuasaan Matangaji pun dihilangkan, yang mana Raden Krestal sebagai Dalem Indramayu yang terakhir.

Uraian di atas dinarasikan dalam naskah Babad Darmayu, sebagaimana telah disinggung di atas. Masyarakat Indramayu yang paling gemar memproduksi naskah tersebut. Tidak mengherankan bila salinan naskah Babad Darmayu banyak ditemukan di Indramayu

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.