Letusan Gunung Ciremai, Tsunami di Pantai Cirebon yang Diragukan

oleh -27.992 views
Erupsi Gunung Ciremai tahun 1937-1938 Foto: Dishut Jabar dan KITLV
Erupsi Gunung Ciremai tahun 1937-1938 Foto: Dishut Jabar dan KITLV

CARUBAN NAGARI-Kawasan di sekitar gunungapi ini merupakan daerah yang relatif subur, dan dikelilingi oleh pemukiman penduduk yang padat. Gunung Ciremai merupakan gunungapi soliter dalam tatanan gunungapi aktif yang terdapat di Pulau Jawa bagian barat.

Baca:

Inilah Sosok yang Meragukan Gunung Ciremai Meletus Akibatkan Gelombang Tinggi di Pantai Utara Cirebon

Tenangnya Gunung Ciremai Menyimpan Riwayat Mencekam

Sebagai gunung api, Ciremai mempunyai cerita dan sejarah letusan yang cukup panjang. Bertipe Strato Volcano tipe A (gunung api yang pernah meletus setelah tahun 1.600).

Berdiri soliter terpisah dari klaster jajaran gunung api di Pulau Jawa pada umumnya. Berada pada bagian utara pulau Jawa bagian barat. Dipisahkan oleh Zona Sesar Cilacap – Kuningan dari kelompok gunung api Jawa Barat bagian timur: Galunggung, Guntur, Papandayan, Patuha hingga Tangkuban Perahu, yang terletak pada Zona Bandung. Zona Sesar Cilacap yang berada di Tenggara-Barat Laut ini berpotensi gempa tektonik. Tercatat gempa tektonik telah terjadi tiga kali akibat struktur sesar ini, pada tahun 1947, 1955 dan 1973.

Mengutip dari Jurnal Biologi Indonesia “Kegiatan Gunungapi Ciremai Jawa Barat dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan di Sekitarnya” oleh Indyo Pratomo tahun 2008, Gunung Ciremai disebut pernah erupsi dengan skala cukup besar hingga menimbulkan Tsunami di pantai Cirebon.

Karakter letusan Ciremai sendiri berupa erupsi eksplosif berskala menengah. Hal tersebut dimanefestasikan oleh sejumlah endapan aliran dan jatuhan piroklastik. Di mana secara berangsur-angsur kekuatan erupsi melemah dan cenderung menghasilkan erupsi magmatik.

Berdasarkan sejarah erupsinya gunung api Ciremai mengalami beberapa kali letusan. Selang antar letusan gunung api ini yang terpendek adalah 3 tahun. Sedangkan yang terpanjang 112 tahun. Jadi dari catatan tersebut di atas, erupsi Gunung Ciremai terakhir terjadi antara 24 Juni 1937 sampai 7 Januari 1938. (Van Padang, 1937, 1951), (Stehn, 1940), (Kusumadinata 1951).

Ada catatan lain mengenai kegiatan Gunung Ciremai dan fenomena gunung api yang juga tercatat serta teramati:

  • Tanggal 3 Februari 1698 tercatat “…gunung di Cirebon telah roboh yang mengakibatkan air begitu tinggi, hingga merusak tanah daerahnya dan menyebabkan korban manusia (Brascamp, 1919). Neuman, Van Padang (1951) meragukan terjadinya letusan tersebut.
  • Pada 11 – 12 Agustus 1772 terjadi letusan di kawah pusat.
  • Kemudian April, 1775, letusan terjadi dari kawah, namun tidak menimbulkan kerusakan (Junghuhn, 1845; 1853) dan (Taverne, 1926).
  • Bulan April, 1805, letusan dari kawah, tidak menimbulkan kerusakan (Junghuhn, 1853). Lalu, tahun 1917, hembusan uap belerang dari dinding selatan. Keluar asap Fumarola secara kuat sehingga membuat lubang yang cukup besar yang sekarang dinamakan Goa Walet (Van Gils, 1917).
  • Berlanjut pada September, 1924, hembusan kuat dari fumarola pada bagian barat dinding pemisah.
  • 24 Juni 1937 – 7 Januari 1938, letusan berlanjut dari kawah pusat, letusan abu atau letusan freatik (Neumann van Padang, 1937; 1951), (Stehn, 1940), (Kusumadinata, 1971). Lalu tahun 1949 terjadi gempa bumi (?).
  • (Wirjosumarto dan Fatah, 1955) pada permulaan tahun 1955 terjadi gempa bumi tektonik yang menimbulkan kerusakan beberapa rumah di sekitar kewedanan Cilimus, namun tidak memengaruhi kegiatan magmanya.
  • Kemudian 16, 21, 26 April 1973, gempa bumi tektonik di Desa Sunia, lereng barat daya Gunung Ciremai, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka. Episentrum gempa yang terjadi dangkal dan terdapat di sebelah timur Lembang pada jarak sekitar 100 km (Dinas Metereologi Jakarta). Gempa tersebut tidak memengaruhi Gunung Ciremai (Kusumadinata, 1979). (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *