Lawang Sanga, Syahbandar Masa Kesultanan Cirebon

oleh -38 views

CARUBAN NAGARI-Situs Lawang Sanga berada di belakang kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon. Tepat di sebelah Sungai Kriyan.

Berdasarkan Naskah Negara Kertabumi, Lawang Sanga yang terletak di Mandalangan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk dibangun dalam rangka persiapan infrastruktur Gotrasawala yang dilaksanakan oleh Pangeran Wangsakerta pada masa Sultan Sepuh I Syamsudin Martawijaya. 

Polmah Kraton Kasepuhan Rahardjo Djali didampingi Juru Kunci, Suwari meninjau lokasi bangunan bersejarah yang sudah berusia lebih dari 300 tahun. Bangunan tersebut dibangun pada tahun 1677 masehi. 

Suwari mengatakan Lawang Sanga berarti pintu sembilan. Karena terdapat sembilan pintu yang terdiri dari satu pintu di depan, satu pintu ditengah, empat pintu di samping, dan tiga pintu di belakang.

Fungsi Lawang Sanga yakni sebagai tempat berlabuhnya perahu dari berbagai macam kerajaan di Nusantara dan mancanegara. Sebelum para tamu tersebut menuju Keraton Pakungwati terlebih dahulu akan melalui gerbang Lawang Sanga.

“Bangunan ini adalah pintu masuk atau gerbang bagi tamu dari kerajaan di Nusantara, Tiongkok, Persia, Arab dan lainnya,” ujarnya, Selasa (1/6).

Dijelaskannya, selain itu, Lawang Sanga merupakan Syahbandar tempat dikumpulkannya upeti atau hadiah dari kerajaan lainnya sebelum diserahkan langsung kepada raja.

Konon, bangunan ini pun dipercayai sebagai tempat perundingan para Wali Sanga. Serta tempat keluarnya keluarga raja  bila ada serangan ke keraton.

“Pintu ini hanya dibuka jika ada tamu penting saja, dan selebihnya ditutup lagi,” kata Suwari. 

Suwari menambahkan bangunan Lawang Sanga sebagian besar masih asli termasuk daun pintunya yang terbuat dari kayu jati. Saat ini Lawang Sanga sudah tidak difungsikan lagi. Namun pada bulan-bulan tertentu banyak masyarakat yang datang untuk berziarah.

“Biasanya banyak peziarah yang datang setiap bulan Sura dan Mulud. Bangunan Lawang Sanga pernah di renovasi bagian atasnya pada tahun 1999,” pungkasnya.

Sementara, Polmah Kraton Kasepuhan Rahardjo Djali saat melihat dari dekat situasi kondisi bangunan Lawang Sanga. Menurutnya, mengandung makna filosofis yang tinggi dan keberadaan bangunan kuno, bisa menjadi daya tarik pariwisata. Apalagi sesuai moto Kota Cirebon sebagai ‘Kota Perdagangan’.

Dikatakan Rahardjo, keberadaan bangunan bersejarah yang ada di Cirebon sangat berharga sebagai pinjaman kepada anak cucu. Jangan sampai ada lagi bangunan-bangunan kuno lainnya hilang dan menghilangkan jati diri Kota Cirebon.

“20 tahun yang akan datang anak cucu kita tetap harus tahu sejarah nenek moyangnya, dan tahu peninggalannya,” pungkas Rahardjo Djali. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.