Kudeta Purbasora di Kerajaan Galuh

oleh -927 views
Candi Cangkuang, salah satu warisan era Galuh (Wikimedia Commons)

CARUBAN NAGARI-Kerajaan Galuh didirikan oleh Wretikandayun. Wretikandayun dinobatkan menjadi raja Kendan pada tanggal tanggal 14 suklapaksa Caitra-6-534 Caka atau 23 maret 612 M, dengan gelar Maharaja Suradarma Jayaprakosa. Setelah naik tahta Rajaresi Wretikandayun memindahkan ibukota kerajaan dari Kendan ke tempat yang baru yang diberi nama Galuh.

Sang Wretikandayun memiliki permaisuri yang bernama Dewi Manawati atau Candraresmi, dalam Naskah Carita Parahyangan disebut “Pwah Bungatak Mangalengale”. Ia puteri dari Resi Makandria (pendeta Hindu).  Konon, Resi Makandria (Markandria) adalah sosok penyebar agama Hindu juga di pulau Bali (Goh Nusa). Sebagai permaisuri, Manawati diberi gelar Candraresmi. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai beberapa orang anak, antara lain :

  1. Sempakwaja, lahir tahun 620 kemudian menjadi raja dan resiguru di  Kerajaan Galunggung.
  2. Jantaka, lahir tahun 622 kemudian menjadi raja dan resiguru di Kerajaan Denuh.
  3. Jalantara atau Amara atau Mandiminyak, lahir tahun 624.

Untuk menggantikan kekuasaannya, Wretikandayun menunjuk Jalantara/Amara/Mandiminyak sebagai putera mahkota, hal ini terjadi karena anak sulungnya, yaitu Sempakwaja tidak dapat mewarisi tahta Galuh karena ompong. Menurut tradisi kerajaan, seorang raja tidak boleh memiliki cacat jasmani, begitu juga dengan anak keduanya, Jantaka yang menderita hernia. Berbeda dengan kedua kakanya yang menjadi rajaresi (taat pada agama), Jalantara atau amara atau Mandiminyak kurang taat beragama dan cenderung berperilaku ‘liar’.

Mandiminyak terlibat smarakarya atau skandal asamara dengan Pwahaci Rababu (Pohaci Rababu) yang merupakan kakak iparnya. Pwahaci Rababu adalah istri Sempak Waja, kakaknya Mandiminyak. Akibat skandal Mandiminyak dengan Pwahaci Rababu ini, lahir seorang anak yang bernama Sena atau Bratasenawa. Sementara itu Sempak Waja dan Pwahaci Rababu juga menurunkan anak yang bernama Purbasora. Untuk menghindari gonjang-ganjing kerajaan, Mandiminyak dinikahkan dengan Dewi Parwati dari Kerajaan Kalingga dan menurunkan anak bernama Sannaha. Kelak, Sena dan Sannaha yang keduanya anak dari Mandiminyak beda Ibu dinikahkan dan menghasilkan nak bernama Sanjaya.

Mandiminyak kemudian menggantikan ayahnya, Wretikandayun, yang wafat tahun 702 M, sebagai Raja Galuh. Dengan demikian posisi Mandiminyak semakin kuat. Ia berkuasa atas Kalingga (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan Galuh (Jawa Barat). Dalam posisinya yang kuat itu, tidak berapa lama sekitar tahun 703/704 M, Mandiminyak menjodohkan cucunya, Sanjaya, dengan Sekar Kancana (Teja Kancana Ayupurnawangi), cucu Raja Sunda Tarusbawa yang berkedudukan di Pakuan. Dari perkawinan Sanjaya-Teja Kancana ini kelak lahir anak laki-laki yang dinamakan Tamperan Barmawijaya (704-739 M).

Sempakwaja menjadi Resiguru di Galunggung dan diberi gelar Batara Danghiyang Guru. Ia menikah dengan Pohaci Rababu, ia berputra :

  1. Rahiyang Purbasura, lahir 565 Caka (670 M)
  2. Rahiyang Demunawan, Sang Seuweukarma, lahir 568 C (673 M)

Pada tahun 709 M di Kerajaan Galuh, Rahyang Mandiminyak meninggal. Ia digantikan oleh Senna, anaknya dari Pohaci Rababu.

Bratasenawa atau lebih dikenal sebagai Senna, menjadi Raja Galuh ketiga. Ia merupakan anak dari hubungan gelap antara Mandiminyak dan Pohaci Rababu. Bratasenawa memiliki putera yang bernama Sanjaya. Dari pernikahan Sanjaya dengan cucu Tarusbawa, maka Bratasenawa dikenal sebagai sahabat baik dari Tarusbawa.

Sikap yang dimiliki Senna  berbeda dengan sikap ayahnya yang masa mudanya terkenal liar. Senna merupakan raja yang taat beragama dan bijaksana. Tapi sikap baiknya itu tetap tidak dapat diterima oleh sebagian pembesar Galuh, mengingat Senna adalah anak hasil dari hubungan gelap.

Banyak orang yang membenci keberadaan Senna sebagai raja Galuh, tetapi hanya 2 orang yang sangat-sangat membenci Senna. Dua orang tersebut adalah Purbasora dan Demunawan, mereka tak lain adalah putera pasangan Sempak waja dengan Pohaci Rababu. Dengan demikian mereka berdua adalah saudara se-ibu dari Senna. Kedua orang itu sangat membenci Senna dikarenakan mereka merasa lebih berhak untuk meneruskan tahta Galuh daripada “anak hasil skandal ibunya” tersebut. Karena asal-usul Senna yang kurang baik  itulah  yang  membuat  Purbasora menginginkan merebut  tahta Galuh.

Tetapi pengangkatan Senna sebagai raja Galuh tersebut tidak diterima oleh Purbasora, anak Sempakwaja dengan Pohaci RababuPurbasora bersiap melakukan penyerangan namun rencana itu rupanya diketahui oleh Senna.

Senna pun lalu mengundang tentara Sunda untuk membantunya menghadapi Purbasora. Namun Purbasora mengetahui rencana itu. Dengan dukungan pasukan pimpinan Ki Balagantrang (sepupunya) beserta pasukan dari Kuningan, Purbasora dengan cepat menduduki Galuh pada tahun 716 M. Dalam situasi yang kalut seperti itu, Senna berhasil meloloskan diri ke Gunung Merapi – Jawa Tengah, di mana ibunya, Dewi Parwati menjadi raja di Kalingga Utara (Bumi Mataram).

Tahun 716, Prabu Purbasura naik tahta di Kerajaan Galuh dalam usia 73 – 80 tahun (716 – 723 Masehi) Raja Galuh ke 4,  bersama permaisuri yang bernama Citra Kirana, dengan gelar Prabu Purbasura Jayasakti Mandraguna.

Sanjaya putra Prabu Bratasenawa (Senna) dan Sanaha menaruh dendam kepada Purbasora, karena dulu telah merebut tahta Galuh dan mengusir Sena, ayahnya. Dendam ini diwujudkan dengan merencanakan perebutan Galuh kembali dengan membunuh Purbasura. Mula-mula Sanjaya pergi ke Denuh (sekarang di Tasikmalaya Selatan) untuk menemui Rajaresi Wanayasa Rahyang Kidul yaitu pamannya Rahyang Jantaka. Maksudnya ialah agar Wanayasa bersedia membantu menggulingkan Purbasora dan diganti oleh Aria Bimaraksa atau Balangantrang, putra sulung Resiguru Wanayasa. Tapi ia menolak. Ia memilih bersikap netral.

Lalu Sanjaya berangkat ke Rabuyut Sawal dengan maksud yang sama. Setelah mendapat ijin, maka gunung Sawal dijadikan markas tentara untuk menyerang Galuh. Pada tahun 723 M Sanjaya yang kini mempunyai kekuasaan besar itu bersiap menyerbu Galuh yang dianggap telah merebut kekuasaan ayahnya, Senna. Persiapan itu dilakukan Sanjaya di Gunung Sawal sekitar 17 km dari Galuh.

Dengan angkatan bersenjata yang terlatih, maka pada tengah malam, angkatan bersenjata Sanjaya berhasil masuk ke keraton Galuh dan Prabu Purbasora tewas pada tahun 645 Caka (747 Masehi). Dalam penyerbuan itu seluruh penghuni keraton gugur. Aria Bimaraksa atau yang juga menyaksikan kejadian ini. Balagantrang dapat meloloskan diri dan kemudian bersembunyi di Geger Sunten (Kampung Sodong Desa Tambaksari Kecamatan Rancah, Ciamis). Pada tahun itu pula Sanjaya menghancurkan Indraprahasta (isteri Purbasora. berasal dari sini).  Aria Bimaraksa (Balangantrang) kemudian bermukim di Geger Sunten.  Kelak dari tempat ini menjadi bencana yang menimpa keluarga Sanjaya.

Setelah Prabu Purbasora wafat Sanjaya naik tahta di Kerajaan Galuh dengan permaisuri Sekar Kancana yang bergelar Teja Kancana Ayu Purnawangi (cucu Prabu Tarusbawa dari anaknya Mayangsari)/ Prabu Sanjaya bergelar  Maharaja Harisdarma Bimaparakrama atau Prabu Maheswara Sarwajitasatru Yudapurnajaya. Sejak saat itu Prabu Sanjaya menjadi Raja Sunda dan Raja Galuh dan tinggal di Pakuan, Ibukota kerajaan Sunda.

Karena menguasai Galuh itulah maka kini Sanjaya secara otomatis berhasil menyatukan KalinggaSunda dan Galuh. Namun situasi politik pasca perbutan kekuasaan masih belum kondusif. Berdasarkan permufakatan dengan para sesepuh Galuh yang masih hidup untuk mencari solusi damai.

Sanjaya ditetapkan untuk tidak memerintah Galuh secara langsung. Sanjaya menyetujui usul Sempakwaja Bhatara Danghyang Guru yang mengangkat Premana Dikusuma anak Wijayakusuma dan cucu Purbasora, sebagai raja Galuh. Premana Dikusuma – suka bertapa dengan gelar Ajar Sukaresi atau Bagawat Sajala-jala – lalu menikah dengan Dewi Pangrenyep (704 M-739 M), anak patih Anggada, Patih dari Kerajaan Sunda. Dewi Pangrenyep ini adalah isteri kedua Premana Dikusuma. Sedangkan isteri pertamanya bernama Dewi Naganingrum (cucu Balagantrang yang lahir 698 M) yang darinya pada tahun 718 M dilahirkan Sang Manarah.

Karena tidak langsung memerintah di Galuh, Sanjaya menempatkan anaknya, Tamperan Barmawijaya (704 M-739 M), sebagai duta di negeri itu. Pada tahun 723 M itu pula Demunawan, adik Purbasora, dinobatkan menjadi Raja Saung Galah di Kuningan.

Dengan adanya pengaturan seperti itu, diharapkan korban jiwa itu, telah selesai sehingga kehidupan negara menjadi tentram dan damai. Namun ternyata tidak demikian. Kedamaian hanya berlangsung dalam bilangan bulan saja. Pada tahun 723 M itu pula terjadi skandal cinta antara Dewi Pangrenyep (isteri kedua Premana Dikusuma) dengan Tamperan Barmawijaya (anak Sanjaya) yang disebut juga Raja Bondan. Sebagai hasil smarakarya (skandal asmara) yang gelap ini maka pada tahun 724 lahirlah Kamarasa atau Sang Banga.

Karena skandal itu, negeri Galuh geger kembali. Untuk meredam keributan, Sanjaya lalu mengungsikan Tamperan Barmawijaya untuk sementara ke Pakuan, ibukota kerajaan Sunda. Usaha tersebut ternyata berhasil karena untuk kurun waktu yang cukup lama negeri Galuh menjadi aman.

Selanjutnya pada tahun 731 Sanjaya kembali ke Kalingga karena mendapat kabar bahwa ayahnya, Senna, akan turun tahta. Tahun itu pula Sanjaya mendapat kepastian bahwa Premana Dikusuma tetap ingin tinggal di pertapaan.

Tahun 732 M Senna baru benar-benar turun tahta. Kedudukan Senna di Kalingga diganti oleh Sanjaya sedangkan Tamperan Barmawijaya menggantikan Sanjaya di Jawa Barat dengan mengambil kedudukan di Galuh. Sejak Sanjaya naik Tahta, nama Kerajaan disebut Medhang Bhumi Mataram. Dengan demikian Tamperan pada usia 28 tahun telah menjadi penguasa Sunda-Galuh, yang wilayahnya meliputi seluruh Jawa Barat ditambah bagian barat Jawa Tengah (sekarang ini).

Saat menjadi penguasa Sunda-Galuh, Tamperan Barmawijaya belum mempunyai permaisuri walaupun sudah mempunyai anak berusia 9 tahun hasil selingkuhnya dengan Dewi Pangrenyep. Sebenarnya ia ingin menjadikan Dewi Pangrenyep sebagai permaisuri namun adat atau hukum yang berlaku tidak mengizinkannya. Itu terjadi karena Pangrenyep masih berstatus sebagai isteri Premana Dikusuma.

Menghadapi situasi yang dianggapnya rumit ini, rupanya gejolak asmara menumpulkan akal. Tamperan Barmawijaya  tidak mau lagi berpikir njlimet. Ia menyelesaikan persoalan ini dengan cara menyuruh seorang prajurit kepercayaannya untuk membunuh Premana Dikusuma (Ajar Sukaresi). Sang prajurit pergi seorang diri dengan cara rahasia dan berhasil menunaikan perintah rajanya. Dengan lega prajurit keluar dari pertapaan, namun ia terkejut saat dihadang pasukan pengawal, ia dibinasakan oleh pengawal Tamperan Barmawijaya (Raja Bondan). Ini konspirasi tingkat tinggi di masa itu.

Setelah Premana Dikusuma tewas, sekitar tahun 732 M, Tamperan lantas memperisteri Dewi Pangrenyep dan Dewi Naganingrum sekaligus. Dewi Pangrenyep menjadi permaisuri sedangkan Dew Naganingrum menjadi selir. Teknisnya dilakukan dengan cara rapi. Berita terbunuhnya Premana Dikusuma cepat tersebar di keraton Galuh, karena sengaja disebarkan. Dan dikatakan bahwa pembunuhnya telah ditangkap dan diadili oleh Tamperan Barmawijaya (Raja Bondan), dengan demikian ia berjasa atas keraton Galuh. Karena jasanya itu, Tamperan Barmawijaya (Raja Bondan)  berhasil memperistri Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep juga berkuasa atas tahta Sunda dan Galuh.

Manarah atau Ciung Wanara, anak Premana Dikusuma dengan Dewi Naganingrum yang saat itu berusia 14 tahun, diperlakukan sebagai anak oleh Tamperan.

Sementara itu Balagantrang yang pada tahun 723 M lolos dari serbuan Sanjaya telah menyusun kekuatan untuk merebut kembali tahta Galuh. Persiapan itu dilakukannya di Geger Sunten. Perlahan-lahan ia mencari dukungan, termasuk membujuk Manarah dan sekutu lainnya. Dalam kisah rakyat, Ciung Wanara dibuang dan dibesar serta dididik oleh Ki Balangantrang.

Tujuh tahun setelah kematian Premana Dikusuma, yaitu tahun 739 M, Balagantrang dan Manarah beserta pasukannya menyerbu Galuh. Karena tidak mengira dan tidak siap maka Tamperan dan Dewi Pangrenyep tertangkap dan dipenjarakan. Sementara itu, Banga – anak Tamperan dengan Pangrenyep – tidak ditangkap dan diperlakukan dengan baik oleh Manarah. Bagaimana pun juga Banga adalah saudaranya satu ibu.

Banga atau Hariang Banga yang berusia 15 tahun itu, merasa bimbang. Apalah arti kebebasan bagi dirinya kalau ayah-ibunya menderita dipenjara sebagi tawanan. Hingga suatu malam Hariang Banga nekat melepaskan kedua orang tuanya, dengan melumpuhkan para penjaga terlebih dahulu. Sang Banga berhasil melepaskan kedua orang tuanya untuk melarikan diri menuju Keraton Bumi Mataram. Namun kejadian ini ketahuan pasukan Manarah dan Balagantrang.

Tamperan Barmawijaya (Raja Bondan) dan Dewi Pangrenyep lari di kegelapan malam menuju Mataram. Pasukan Manarah dan Balagantrang terus mengejar. Tamperan dan Pangrenyep dihujani anak panah. Akhirnya raja dan ratu itu tewas bersimbah darah dalam kegelapan malam jauh dari purasaba Galuh.

Peristiwa kematian Tamperan Barmawijaya (Raja Bondan) akhirnya sampai ke Bumi Mataram, alangkah murkanya Raja Sanjaya mendengar peristiwa tersebut. Dengan mengerahkan angkatan perang  yang besar, Raja Sanjaya bergerak dari Medang Bumi Mataram menuju purasaba Galuh. Namun Sang Manarah telah memperhitungkan kemungkinan tersebut dan mengerahkan seluruh pasukan Galuh diperbatasan. Dua keturunan Wretikandayun saling berhadapan, masing-masing mengerahkan angkatan perangnya. Akhirnya gotrayudha (perang saudara) yang sangat dahsyat pecah kembali. Perang berlangsung beberapa hari namun belum menunjukkan ada yang kalah dan menang.

Akhirnya Resiguru Demunawan dengan pengiringnya barisan pendeta turun dari Saung Galah menuju palagan (medan perang) Galuh. Dengan wibawanya yang besar sebagai tokoh tertua Galuh yang masih hidup, Resiguru Demunawan berhasil menghentikan pertempuran sehingga terjadi gencatan senjata. Dalam usia 93 tahun Resiguru Demunawan kelahiran Kabuyutan Gunung Galunggung memimpin perundingan perjanjian antara Sanjaya dan Manarah (Ciung Wanara) di keraton Galuh. Hasilnya adalah kesepakatan berupa pembagian wilayah. Hasil perjanjian tersebut :

  1. Kerajaan Sunda dengan  dirajai oleh Hariang Banga alias Kamarasa dengan gelar Prabu kretabuana Yasawiguna Ajimulya, dengan batas Negara dari Sungai Citarum ke Barat.
  2. Kerajaan Galuh dirajai oleh Suratama alias Sang Manarah dengan gelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana.

Demunawan menguasai kerajaan Saung Galah dan bekas kerajaan Galunggung (sampai dengan 774 M).

Manarah atau Ciung Wanara memerintah selama kurang lebih 44 tahun, dengan wilayah pemerintahannya antara daerah Banyumas sampai ke Citarum, setelah cukup lama memerintah, Ciung Wanara mengundurkan diri dari pemerintahan, pemerintahan selanjutnya diteruskan oleh menantunya sendiri yaitu Sang Manistri atau Lutung Kasarung suami dari Putri PurbasariPrabu Manisri bergelar Prabu Darmasakti Wirajayeswara,  berkuasa dari tahun 783 – 799 M. Prabu Manarah, pada tahun 783 Masehi,  melakukan Manurajasunya Di Darmaraja Sumedang Larang.

Referensi

  1. Ekajati, Edi S. 2005. Kebudayaan Sunda Zaman Pajajaran. Yayasan Cipta Loka Caraka.
  2. Noorduyn, J.. 2005. Three Old Sundanese poem. KITLV Press.
  3. Naskah Carita Parahyangan (1580), fragmen Kropak 406. Naskah beraksara Sunda Kuno, bahasa Sunda Kuno. Koleksi: Perpustakaan Nasional RI.
  4. Sukardja, H. Djadja, 2002. Situs Karangkamulyan. Ciamis: H. Djadja Sukardja S. Cet-2.
  5. “Kerajaan Sunda Galuh” wikipedia.org Diakses 10 Juni 2019.
  6. Tim Penulis Sejarah. 1984. Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat. Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat, Pemda Propinsi DT I Jawa Barat
  7. Dinas Pariwisata Ciamis, 2003. Wisata Ciamis.
  8. “Sekilas Sejarah Galuh” sejarahtatarpasundan.blogspot.com Diakses 10 Juni 2019.
  9. “Kerajaan Galuh” West Java Kingdom blogspot.com Diakses 10 Juni 2019.
  10. “Pohaci Rababu & Dewi Pangrenyep: Skandal Demi Skandal Penyulut Gonjang Ganjing” Babad Wong Wedok Nusantara blogspot.com Diakses 10 Juni 2019.
  11. Ayatrohaedi. 2005. Sundakala: Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-naskah “Panitia Wangsakerta” Cirebon. Pustaka Jaya, Jakarta. ISBN 979-419-330-5
  12. Saleh Danasasmita. 2003. Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi. Kiblat Buku Utama, Bandung. ISBN
  13. Yoseph Iskandar. 1997. Sejarah Jawa Barat: Yuganing Rajakawasa. Geger Sunten, Bandung.
  14. Darsa, Undang A. 2004. “Kropak 406; Carita Parahyangan dan Fragmen Carita Parahyangan“, Makalah disampaikan dalam Kegiatan Bedah Naskah Kuno yang diselenggarakan oleh Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga. Bandung-Jatinangor: Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.
  15. Lubis, Nina Herlina., Dr. MSi, dkk. 2003. Sejarah Tatar Sunda jilid I dan II. CV. Satya Historica. Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.