KNKT: Sriwijaya Air SJ182 di Ketinggian 10.900 Kaki Arah Pesawat 16 Derajat Lalu Menunduk 20 Detik FDR Berhenti Merekam

oleh -36 views
Tangkapan layar Kompas TV
Tangkapan layar Kompas TV

CARUBAN NAGARI-Sebulan sesudah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di Perairan Kepulauan Seribu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan berencana menyampaikan laporan awal terkait kecelakaan tersebut hari ini.

Baca:

Laporan Awal Penyebab Sriwijaya Air SJ182 Jatuh, Live Streaming Disini

Pukul 14.40 Detik 05, Sriwijaya Air SJ182 Autopilot Tak Aktif Hidung Pesawat Naik ke Atas

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyampaikan laporan pendahulu soal jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 9 Februari 2021. Sejumlah data disampaikan KNKT termasuk kondisi pesawat sejak lepas landas sampai akhirnya jatuh.

Kepala Sub Komite Investigasi Keselamatan Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo mengatakan, Sriwijaya Air lepas landas dari Bandara Soetta pada pukul 14.36 WIB. Pilot pesawat mengambil jalur keberangkatan yang disebut dengan ABASA 2D.

“FDR mencatat ketinggian pesawat pada 1.980 kaki autopilot aktif,” kata Nurcahyo dalam konferensi pers virtual, Rabu (10/2).

“Naik ketinggian 8.100 kaki throttle kiri mesin bergerak mundur dan putaran mesin berkurang sedangkan sebelah kanan tetap,” tambahnya.

Kemudian, 2 menit setelah terbang, pilot meminta izin ke ATC untuk berbelok 75 derajat dengan alasan cuaca. ATC memberi izin.ATC yang mengetahui ada pesawat lain dengan tujuan yang sama akan melintas. Karena itu, ATC meminta Sriwijaya Air untuk berhenti naik sampai ke ketinggian 11 ribu kaki.

“Lalu pada pukul 14.39.47 WIB, pesawat yang melewati ketinggian 10.600 kaki. pesawat berbelok ke 46 derajat belok kiri. Tuas pengatur kiri bergerak mundur, kanan tetap,” lanjut dia.

ATC lalu memberi instruksi kepada SJ 182 untuk naik ke ketinggian 13 ribu. Lalu dijawab pilot pada 14.39.59.

“Ini rekaman terakhir yang terekam di ATC,” tutur dia.

Dari data FDR, pada 14.40.05 WIB, pesawat terekam berada pada ketinggian 10.900 kaki. setelah ketinggian ini, pesawat turun tapi posisi hidung pesawat masih menghadap ke atas.

“Ketinggian tertinggi pesawat 10.900 kaki. Setelah ketinggian ini pesawat turun, autopilot tidak aktif arah pesawat 16 derajat, sikap pesawat hidungnya naik miring ke kiri. Tuas pengatur mesin kiri mundur kecepatan berkurang, tuas kanan tetap,” jelas dia.

Tak lama kemudian, tepatnya pada 14.40.10 WIB, catatan FDR, autothrottle tidak aktif. Pesawat lalu berubah posisi menjadi menunduk.

“20 detik kemudian FDR berhenti merekam,” ucap dia.

Preliminary Report KNKT memang tidak menyajikan data kesimpulan. Dalam laporan ini hanya menunjukkan data-data yang berhasil dikumpulkan selama satu bulan proses investigasi.

Sampai saat ini, CVR Sriwijaya Air juga belum ditemukan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.