Kisah Penobatan Prabu Siliwangi Raja Pajajaran Terjadi Gempa Bumi, Begini Isi Lontar Sangara Bumi

oleh -1.230 views
Dok. alitmd.com

CARUBAN NAGARI-Prabu Siliwangi adalah Maharaja Kerajaan Sunda-Galuh yang lebih dikenal sebagai Pajajaran. Prabu Siliwangi lahir tanggal 17 April 1401 Masehi di Keraton Surawisesa, Kawali, Kerajaan Galuh (Ciamis sekarang).

Anak dari Prabu Rahiyang Dewa Niskala, Raja Galuh Pakuan (1475 – 1482M). Nama panggilannya R. Pamanah Rasa.Dinobatkan menjadi Raja galuh Pakuan bergelar Prabu Guru Dewata Prana. Setelah menduduki tahta kerajaan.

Pakuan Pajajaran (gabungan dua kerajaan Pakuan dengan Pajajaran) mendapat gelar Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji. Dan mendapat tambahan gelar Sri Sang Ratu Dewata

Prabu Siliwangi bertahta dari tahun 1482 sampai dengan tahun 1521 M. Dikisahkan dalam “Waosan Babad Galuh” (pupuh XLIII.23 – XLIV.04), ketika penobatan Prabu Siliwangi menjadi raja, terjadi gempa bumi sebagai pertanda baik dari Sanghyang Kersa/Karsa (Tuhan Maha Mengizinkan/Pencipta).

Penobatan itu disambut oleh getaran gempa bumi, yang menjadi saksi penobatan Prabu Siliwangi. Sang raja meraga sukma akadang sukma, para Dewata memayungi. Sudah sangat termashur dan tidak ada yang menandingi raja Pajajaran. Keluarganya banyak,  anaknya banyak, isterinya banyak, mereka tinggal mengisi negara Sunda. Sang raja terkenal serta telah menjadi pembicaraan akan kehebatannya yang melebihi sebagai seorang pejuang, tidak ada musuhnya di dunia ini yang mampu untuk menghalangi kehendaknya.

Dalam budaya (kosmologi Sunda), gempa bumi tidak selalu dipandang sebagai pertanda buruk.

Dalam Kitab Sanghyang Siksa Kandang Karesian, disebutkan adanya ahli gempa. Jika ingin mengetahui bulan grempa (gempa) tanya “Bujangga” -ahli gempa (?). Namun sayang, rincian tanda-tanda gempa masih belum ditemukan dalam Naskah Sunda Kuno.

Berikut kami kutip dari naskah lontar Bali yang bernama Roga Sangara Bumi:


Gempa adalah salah satu peristiwa alam yang amat mengerikan dan membuat manusia traumatis. Gempa dapat terjadi di mana  saja, kapan saja, dan terkadang getarannya kecil tidak membahayakan. Apabila getarannya besar, maka gempa dapat membuat  bumi luluh lantak (pralaya). Roga Sangara Bumi juga berisi tentang bencana alam gempa beserta baik buruknya berdasarkan sasih(bulan) terjadinya gempa tersebut. Berikut uraiannya:

  1. Bila sasih kepitu (Januari) datangnya gempa secara terus-menerus, menandakan akan terjadi perang tidak henti-hentinya. Berbagai penyakit akan menimpa masyarakat.
  2. Bila sasih kaulu (Februari), dan sasih katiga (September) datangnya gempa secara terus-menerus, ramalannya akan  terjadi wabah penyakit sampai banyak orang meninggal.
  3. Bila sasih kesanga (Maret) datangnya gempa secara terus-menerus, ramalannya negara tidak akan menentu. Para pembantu meninggalkan tuannya.
  4. Bila sasih kadasa (April), ramalannya negara akan menjadi baik. Ini berarti sebagai pengundang Bhatara berbelas kasih kepada manusia.
  5. Bila sasih jyesta (Mei) dan sasih sada (Juni), ramalannya akan terjadi banyak orang sakit tidak tertolongkan.
  6. Bila sasih kapat (Oktober), sasih kalima (November) ramalannya sebagai pengundang dewata. Para dewa senang tinggal di bumi. Bumi akan mendapat kerahayuan. Segala yang ditanam akan hidup subur dan berhasil (saphala sarwa tinandur). Raja atau pemimpin bijak dan berbudu rahayu.
  7. Bila sasih kanem (Desember), ramalannya banyak orang akan jatuh sakit tidak tertolongkan. Untuk menetralisir patut segera dibuatkan upacara persembahan caru selamatan.

Kecuali pengaruh dan ramalan gempa yang terjadi akan mengarah ke kebaikan, maka gempa yang terjadi dan berakibat buruk pada kehidupan harus segera dibuatkan upacara caru selamatan. Gempa yang terjadi pada bulan-bulan yang berbeda dan berpengaruh buruk terhadap kehidupan manusia akibat marahnya para dewa. Untuk jenis upacara persembahan selamatan dan ditujukan kepada dewa siapa,  tergantung dari sasih (bulan) berapa terjadinya gempa tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *