Kerajaan Sunda dalam Catatan China dan Jepang

oleh -119 views
Ukiran Padma pada Prasasti Pasir Muara

CARUBAN NAGARI-Kata Sunda tercatat dalam kronik Cina sejak abad ke-13 dalam naskah tulisan Chaujuka (Zhao Ru Gua)—Zhu Fan Zhi (Catatan dari Negri Asing) 1225—dengan sebutan ‘Xintuo’ Sint’o. Naskah itu menunjukkan hubungan dagang dan diplomatik Sunda-Cina sudah tercatat dalam kronik Cina, sebelum naskah Sunda mencatatnya.

Sunda dalam naskah Cina digambarkan sebagai kerajaan makmur dengan hasil bumi berupa lada, semangka, tebu, labu botol, kacang-kacangan, dan terung. Chaujuka—pengawas perdagangan maritim di Quanzhou—menulis, di Sunda jarang terdapat pedagang asing. Nama Sunda pada naskah Cina kuno berikutnya menempel pada penggambaran Jawa dengan nama ‘Sun La’ dalam kronik Cina bertarikh 1339 berjudul Daoyi Zhilue (Catatan Singkat dari Negeri Asing) karya Wang Dayuan. Naskah Cina Ming Shi bagian Cheng He Zhuan (Kitab Sejarah Dinasti Ming bab kisah perjalanan Cheng Ho) sezaman dengan Siksa Kandang Karesian. Nama Sunda tercatat dengan kata ‘Sun La’. Demikian pula nama Sunda tercatat dalam naskah Cina Xiyang Chaogong Dianlu (Catatan Pemberian Tribut dari Asia Tenggara) dengan kata ‘Xun Ta’.

Baca: Selusur Nama Santang dan Sancang

Berdasarkan beberapa artikel yang penulis buat sebelumnya, terdapat indikasi kuat bahwa keagamaan Kerajaan Pajajaran terdapat anasir ajaran Buddhisme (Agama Buddha) disamping pengaruh ajaran lama yakni Jati Sunda (Sunda wiwitan) dan Hindu. Contohnya dalam prasasti Kebantenan dan naskah-naskah Sunda kuno menyebut ‘Wiku’ untuk para pemimpin tertinggi kegamaan. Kata Wiku ini berasal dari kata Biku/Bikhu/Biksu yang kita ketahui sebagai pemimpin agama Buddha. Juga memasukan panteon Hindu yaitu nama-nama dewa Hindu dalam kesusastraan Sunda Kuno disamping keberadaan sosok ‘ibu ilahiah’ Sunan Ambu dan sosok tertinggi “Hiyang”. Prasasti Pasir Muara dengan jelas terdapat ukiranbunga teratai yang disebut Padma.

Bagi masyarakat Tiongkok, bunga teratai merupakan ikon Buddhisme yang diagungkan. Ia pun menjadi simbol dari kesucian dan kemurnian. Tak hanya menjadi ikon ajaran Buddha, bunga teratai juga menjadi ikon ajaran Taoisme. Dan beberapa naskah Sunda Kuno sering menyebutkan China atau Tiongkok. Pun demikian dalam kronik China terdapat naskah adanya hubungan Tingkok semenjak Kerajaan Salakanagara, Tarumanagara dan Kerajaan Sunda (Pajajaran). Juga kronik penjelajah Portugis seperti Tome Pires dan J De Baros melaporkan adanya orang-orang Tiongkok dan Ryukyu (Jepang) yang melakukan perdagangan di Pelabuhan Sunda Kelapa pada awal abad ke-16.

Tak dapat disangkal, bunga teratai masuk ke Tiongkok melalui pengaruh ajaran Buddha yang menyebar dari India sejak masa Dinasti Qin (221-206 SM). Ajaran Buddha semakin berkembang pada masa Dinasti Tang (618-907M) dan semakin terkenal dengan munculnya kisah Perjalanan ke Barat.

Bunga teratai yang dianggap berasal dari India merupakan singgasana bagi Dewa Brahma. Teratai juga merupakan bunga suci yang dibawa oleh Dewa Wisnu. “Om mani Padma Hum,” demikian doa dalam bahasa Sansekerta yang sering diucapkan oleh para Lama, “semoga jiwa kita seperti tetesan air yang berada di ujung daun teratai sebelum jatuh pada danau kedamaian abadi—sebelum moksa menuju nirwana. Seiring dengan masuknya ajaran Buddha ke Tiongkok, teratai pun menjadi ikon dan simbol yang menjadi bagian dalam kebudayaan masyarakat Tiongkok, baik di Tiongkok daratan maupun di perantauan. 

Nama Kian muncul dalan sejarah Kerajaan Ryukyu (sekarang Okinawa Jepang). Ketika itu kerajaan Ryukyu adalah sebuah kerajaan independen dan tidak dibawah kekaisaran Jepang. Meskipun Shogun Tokugawa berkali-kali menyerang Kerajaan Ryukyu, masih tidak dapat menganeksasi kerajaan ini. Barulah ketika Kaisar Meiji berkuasa di Jepang, Kerajaan Ryukyu jatuh ke Kekaisaran Jepang. Terjadi beberapakali misi diplomatik perundingan dari Kerajaan Ryukyu ke Edo (Tokyo sekarang). Tersebutlah seorang duta Kerajaan Ryukyu yang biasa berhubungan dengan penguasa negeri asing adalah ‘Kian Nyūdō Bangen’. Dia dikenal ‘master teh’ dalam etika negosiasi minum fengan teh. Dia juga terkenal karena buku hariannya, Kian Nikki, yang mencatat Invasi Ryukyu 1609. Kerajaan Ryukyu baru bergabung dengan Jepang secara resmi dianeksasi oleh Jepang pada tahun 1879 sebagai Prefektur Okinawa.

Apakah misi diplomatik Kian Nyūdō Bangen pernah ke Kerajaan Pajajaran? Mungkin saja. Kian Nyūdō Bangen membuat diary berjudul ‘Kian Nikki’ dari tahun 1566-1653 M. Sementara Kerajaan Pajajaran baru runtuh 1579 M. Bisa jadi Kian Nyūdō Bangen pernah berkunjung ke Pajajaran dalam misi diplomatik perdagangan antar bangsa. Namun demikian, tidak ada catatan dalam negeri mengenai orang-orang dari Kerajaan Ryukyu di pulau Jawa khusus Pajajaran. Juga tidak ditemukan apakah istilah ‘Kian’ ini berkonotasi ‘seorang duta’ bagi warga Sunda? Bila demikian, wajar dalam kisah Kian Santang dalam ‘Wawacan keyan Santang’ digambarkan sebagai seorang duta utusan langsung Rasulullah untuk meng-Islam-kan tanah Jawa.

Kian Sancang zaman tarumanagara? Jika Kian Sancang (menurut cerita rakyat) hidup di zaman pemerintahan Raja Kertawarman (Kerajaan Tarumanagara 561 – 618 M), maka kita bisa menelusuri kronik Tiongkok dari Zaman Dinasti Tang. Dinasti Tang, dalam romanisasi Wade-Giles ditulis Dinasti T‘ang, adalah salah satu dinasti Tiongkok yang menggantikan Dinasti Sui dan mendahului periode Lima Dinasti dan Sepuluh Kerajaan.

Dinasti Tang yang bertahan sampai sekitar tiga ratus tahun (618-907). Kaisar Tang merupakan penguasa yang pertama menaruh banyak perhatian pada wilayah pantai Tiongkok Tenggara (sekarang termasuk Provinsi Guangdong, Fujian, dan Zhejian). 

Tang, dengan ibu kotanya Chang’an (sekarang disebut Xi’an di Provinsi Shaanxi), memperluas wilayahnya ke semua penjuru; ke utara wilayah Tang meliputi Monggolia dan Siberia Selatan, ke arah barat sampai “Laut” Aral di Asia Tengah, ke barat sampal batas timur Persia (sekarang disebut Iran), ke selatan sampai daerah yang sekarang termasuk Vietnam Utara dan Laos bagian timur, ke timur taut sampai setengah dan Jazirah Korea (bagian barat). Bahkan, Tibet, yang katanya tidak bisa ditundukkan, bisa dikatakan berhasil dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan Tang sehingga Tibet merupakan kerajaan yang tunduk dan setia kepada kaisar Tang

Kemajuan negara Tang tidak hanya dalam bidang kemiliteran (untuk memperluas wilayah kekuasaan), tetapi juga dalam bidang-bidang lain, seperti ilmu pengetahuan, kesenian, kebudayaan, dan masih banyak bidang lain lagi, sehingga keturunan imigran-imigran Tiongkok di negeri lain seperti Amerika Serikat, Indonesia, dan di negara-negara lain, setelah beberapa generasi, masih sangat bangga menyebut dirinya Tangren, atau orang Tang di Indonesia.

Jika Kian Sancang dipoposisikan hidup pada zaman raja Kertwarman (561 – 618 M),  maka masuk akal jika dikaitkan dengan zaman Dinasti tang di Tiongkok (618 – 907 M).

Kisah seorang bikhu Buddha Bodhiruci (572–727). Ia seorang biksu Buddha dari selatan Tianzhu (India) yang melakukan perjalanan ke timur. Lahir dari keluarga Brahmana di selatan Tianzhu, awalnya bernama Dharmaruci tetapi diberi nama “Bodhiruci” oleh Permaisuri Wu. Mengetahui reputasinya, Kaisar Gaozong (Dinasti Tang) mengundangnya untuk tinggal di Chang’an pada tahun 683 M. Setelah kematian Kaisar Gaozong, Bodhiruci pergi ke Luoyang, di mana ia menerjemahkan dan menerbitkan sembilan belas kitab Buddha (dua puluh jilid). Dia juga membantu Yijing dalam terjemahan baru Avatamsaka Sutra. Setelah kembalinya Kaisar Zhongzong, ia tinggal di Kuil Xichongfu di Chang’an, di mana ia menerjemahkan dan menerbitkan Dabaojijing. Secara total, dia menerjemahkan lima puluh tiga kitab suci dalam 111 jilid selama hidupnya. Pada tahun 724, ia pindah ke Luoyang, dan ia tinggal di Kuil Zhangshou sampai kematiannya pada November 727 M pada usia 155 tahun. Setelah kematiannya, ia diberi gelar anumerta Kaiyuan Yiqie Bianzhi Sancang. Apakah kata Sancang berasal dari Tiongkok? apakah berasal dari kata sàn chǎngsàn chǎng artinya (1) untuk dikosongkan; (2) (pertunjukan) sampai akhir.

Menurut Chinese Language Center.

  1. sàn adalah untuk berpencar; putus (pertemuan dll); untuk membubarkan; untuk menyebarkan; untuk menghilangkan; untuk memecat
  2. chǎng adalah tempat besar yang digunakan untuk tujuan tertentu; tahap; adegan (dari sebuah drama); mengukur kata untuk kegiatan olahraga atau rekreasi; mengukur kata untuk jumlah ujian

Jika menurut bahasa Mandarin bahwa San artinya membubarkan/menceraiberaikan dan tang artinya dinasti tang dari Tiongkok. Mungkin bisa tersambung dengan cerita rakyat bahwa ‘tokoh kian Santang’ diceritakan sejak zaman Tarumanagara sebagai epik kepahlawanan. Bahwa Kian Santang adalah sosok pengusir (menceraiberaikan) pasukan Kaisar Tang dari Tiongkok. Masuk akal dari asal-usul bahasa, tetapi tidak ditemukan rujukan bahwa zaman Dinasti Tang pernah melakukan invasi militer ke tanah Jawa.

Referensi

  1. “Cariosan Prabu Siliwangi”. versi digital Published by revikuswara, 2020-01-06. liphtml5.com Diakses 30 Agustus 2020. 
  2. National Geographic.grid.id “Menyingkap Simbol Teratai Di Klenteng” 18 Juli 2014 Diakses 30 Agustus 2020. 
  3. “Dinasti Tang (618-907)”. kumparan.com Diakses 30 Agustus 2020.
  4. Ekadjati,  Edi  S.,  1985. “Naskah  Sunda  Lama  Kelompok  Badad”.  Jakarta:  Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
  5. ___________,    1985. “Pendekatan  Sejarah  Atas  Peninggalan-peninggalan Tertulis  Tentang  Prabu  Siliwangi”dalam  Seminar  Sejarah  dan  Tradisi Tentang Prabu Siliwangi. Bandung: 20-24 Maret.
  6. ___________,1988. “Naskah  Sunda:  Inventarisasi  dan  Pencatatan”. Bandung: Universitas Padjadjaran
  7. Koswara, Dedi. “Buku Bahan Perkuliahan Sastra Buhun: Intrepretasi Semiotik WKS”. pdf. Bandung: Fakutas Pendidikan Bahasa dan Sastra UPI. Diakses 8 Agustus 2020.
  8. wikipedia.org “Kertawarman” Diakses 30 Agustus 2020.
  9. Kawabata , Miki. 2011. “(Re)locating Identities in the Ancestral Homeland: The Complexities of Belonging among the Migrants from Peru in Okinawa”. Disertasi Doktoral Department of Anthropology and Sociology School of Oriental and African Studies University of London. London: SOAS University of London. core.ac.uk Diakses 26 Agustus 2020. 
  10. Bangen, Kian nyūdō (1566-1653). 2009. “Kian Nikki: Okinawagaku kenkyū shiryō; 6.” Okinawa-ken Ginowan-shi: Yōju Shorin, 2009. 
  11. Marzuki, Surlina dkk. 1992/1993. “Wawacan Perbu Kean Santang”. Jakarta: Direktorat Jenderal dan Nilai Tradisional Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara – Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  12. “Mbah Kuwu Sangkan Ternyata Miliki Lima Nama” fajarsatu.com 09/12/2019 Diakses 30 Agustus 2020.
  13. “sàn chǎng”, ApproaChinese. Diakses 30 Agustus 2020. 
  14. “sànchǎng” Chinese Language Center – yellowbridge.com Diakses 30 Agustus 2020.
  15. Suhaebah, Ebah. 2006. “Satria Tanpa Tanding”. Cetakan ke-2 Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. 
  16. Su-il, Jeong. 2016. “The Silk Road Encyclopedia”. Printed in the Republic of Korea. Library of Congress Control Number: 2016936870
  17. Sumardi, Jakob. 2001. “Fokus: Kraton Sunda dalam Pantun”. Bandung: Pikiran Rakyat, 18 Maret 2001 hal 4 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.