Jenglot Tidak Memiliki Struktur Tulang, Hasil Sinar X Kulitnya Punya DNA Seperti Manusia, Darahnya Siapa?

oleh -774 views
Jenglot yang ditemukan di Kudus (Foto: istimewa/juru kunci makam Ki Buyut Akasah, Kudus)

CARUBAN NAGARI-Jenglot, entah gimana menyebutnya. Ia adalah sejenis “boneka” atau benda humanoid berkekuatan magis yang dipercaya bernyawa. Alih-alih menemukan, beberapa orang mengaku memburu untuk mendapatkannya, menunjukkan kalau sosok ini bergerak atau mungkin bersembunyi.

Baca: Mengungkap Diagram Magis di Tanah Sunda

Maka, jangan heran kalau sejumlah orang kemudian tergerak untuk menelitinya lebih jauh, memastikan bahwa monster mini, berdasarkan bentuknya yang mungil dan menyeramkan, ini memang punya kehidupan. Ada yang merontgen tubuhnya, ada pula yang meneliti DNA-nya.

Bersumber dari kabar yang menular dari mulut ke mulut, jenglot adalah sejenis mumi. Atau, ia adalah perwujudan dari orang yang gagal saat melakoni ilmu keabadian, Batara Karang. Orang itu meninggal, tapi nggak bisa diterima bumi, karenanya menyusut menjadi jenglot.

Seperti dikutip dari buku Enigma 2: Menguak Fakta-fakta Misterius Paling Fenomenal di Dunia yang ditulis Sam, pada tahun 2010, tim forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pernah melakukan uji sinar X terhadap jenglot kepemilikan warga bernama Hendra.

Ternyata, hasil uji sinar X itu menunjukkan bahwa jenglot tersebut tidak memiliki struktur tulang. Yang ada hanya bentuk struktur menyerupai penyangga dari kepala hingga badan. Selain itu, jenglot ini juga diketahui tidak memiliki struktur layaknya manusia.

Namun, hasil pemeriksaan berbeda justru terungkap ketika seorang ahli forensik dari Universitas Indonesia, dr Djaja Surya Atmaja turut meneliti jenglot ini. Dia menyebut bahwa kulit jenglot memiliki karakteristik DNA seperti manusia.

“Saya kaget dengan kenyataan ini,” ujar dr Djaja seperti dikutip dari buku Enigma 2.

dr Djaja mengambil sampel jenglot itu dari sayatan kulit tangannya. Kendati demikian, dia mengingatkan bahwa hasil pemeriksaannya ini bisa meleset. Karena, bisa saja sampel kulit tadi terkontaminasi.

“Misalnya, kulit jenglot sebelumnya terkena olesan darah manusia,” ungkapnya.

Dia mengatakan hal itu bisa terjadi karena jenglot biasanya secara rutin diberi darah sehingga sangat mungkin terkontaminasi. dr Djaja tidak bisa memastikan hal ini. Asal-usul jenglot sampai sekarang masih menjadi misteri. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *