Harta Karun Perairan Cirebon: Ratu Mistis Dewi Rara Kuning, Dewi Lanjar Penguasa Pantai Utara Jawa

oleh -336 views
Ilustrasi

CARUBAN NAGARI-Perairan Cirebon sudah sejak lama dikenal sebagai tempat perburuan liar harta karun atau Benda Berharga Muatan Asal Kapal Tenggelam (BMKT). Perburuan tidak hanya dilakukan oleh penyelam tradisional dan nelayan lokal dengan peralatan yang sederhana, tetapi diduga melibatkan sindikat internasional.

Sekira 640 lokasi benda berharga BMKT, 120 titik di antaranya terletak di wilayah perairan Cirebon. 

“Perairan Cirebon menjadi lahan perburuan bagi pencari harta karun dari seluruh dunia,” kata Komandan Lanal Cirebon, Letkol (P) Deny Septiana di okezone.com dikutip politik.radarcirebon.com, Kamis (4/3).

Menurut Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, diketahui hampir seluruh keramik kapal karam Cirebon berasal dari China abad ke-9 M – 10 M atau masa Dinasti Tang Akhir /Lima (5) dinasti. Sebagian besar keramik China tersebut merupakan produksi kiln (tempat pembakaran) di Provinsi Zhejiang China.

Zhejiang merupakan pusat dan tempat awal keramik kualitas terbaik di produksi di China, dan telah berkembang sejak 1000 tahun yang lalu. Selain terdapat juga keramik-keramik jenis lain yang diproduksi di luar Zhe Jiang seperti keramik putih dan keramik hijau lainnya. Semua wadah berhias didekorasi dengan pola hias bunga-bunga, hewan, lengkung-lengkung, dan geometris. Seluruh hiasan tersebut diterapkan dengan menggunakan teknik ukir, cetak dan gores.

Baca: Ada 120 Titik Lokasi Harta Karun di Perairan Laut Cirebon, Sebagian Besar Kapal Karam China

Namun, dibalik kisah perburuan harta karun di wilayah perairan Utara Cirebon terselip mitos tentang Dewi Lanjar. Banyak yang percaya bahwa Dewi Lanjar merupakan salah satu tokoh nyata yang tidak hanya sekedar makhluk mistis, Dewi Lanjar dipercaya memiliki kekuatan untuk menjaga kehidupan secara mikro kosmos ataupun makro kosmos, dipercaya pula bahwa Dewi Lanjar adalah tokoh spiritual keagamaan yang memiliki sejarah panjang setara dengan wali Songo, dari itu Dewi Lanjar juga memiliki titel hajjah sebagai titel keagamaan Islam.

Bagi sebagian warga yang percaya, Dewi Lanjar memberikan satu kepercayaan untuk mendatangkan berkah, ngalap berkah adalah salah satu jalan untuk menuju satu keinginan baik rejeki secara material ataupun non material. Banyak cara yang ditempuh orang-orang untuk mendapatkan berkah itu, ada yang menginap hingga berhari-hari, ada yang bertapa, ada yang sekedar berdoa, bahkan dengan media air mineral.

Semua orang yang datang di ritus atau pesanggrahan yang diyakini adalah pesanggrahan Dewi Lanjar, memiliki keyakinan sendiri-sendiri dan bermacam-macam. Meskipun ada yang sudah diberikan penjelasan bahwa meminta secara langsung kepada Dewi Lanjar adalah salah satu bentuk kemusyrikan namun masih banyak melakukan hal itu.

Namun tidak sedikit pula yang berdoa langsung kepada tuhan melalui perantara dan tempat pesanggrahan tersebut. Dewi Lanjar memiliki pengaruh yang kuat unutuk mesyarakat yang mempercayai keberadaanya, dan dianggap memiliki daerah kekuasaan dan kerajaan yang tidak hanya sebatas pada wilayah Slamaran Pekalongan saja akan tetapi sepanjang pantai utara pulau Jawa dari Cirebon hingga Rembang. Bahkan tidak sedikit yang mempercayai bahwa Dewi Lanjar memiliki hubungan langsung dengan penguasa pantai selatan Jawa, Nyi Roro Kidul.

Kisah Dewi Lanjar memang tak sepopuler sepak terjang sang Ratu Pantai Selatan. Istilah “lanjar” sendiri berarti janda yang ditinggal meninggal dunia atau bercerai dengan suami sejak usia belia.

Menurut kepercayaan masyarakat pesisir pantai utara Laut Jawa, khususnya wilayah Pekalongan, Dewi Lanjar memiliki nama asli Dewi Rara Kuning yang ditinggal mati suaminya di usia muda. Kehidupan Dewi Rara Kuning dikisahkan sangat menderita terlebih karena statusnya sebagai seorang janda muda.

Tak tahan menghadapi cobaan yang ada, Dewi Rara Kuning kemudian memilih pergi dari kampungnya demi menghilangkan rasa duka yang terus menghampirinya pasca wafatnya sang suami.

Di tengah perjalanan, Dewi Rara Kunig disebutkan bertemu dengan Danang Sutawijaya alias Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram yang tersohor akan kesaktiannya. Kala itu, Panembahan Senopati tengah bersemedi di ujung Kali Opak, Pegunungan Merapi.

Panembahan Senopati diceritakan menyarakan Dewi Rara Kuning untuk bersemedi di pinggir pantai selatan Laut Jawa agar bertemu dengan Nyi Ratu Kidul. Tanpa berfikir panjang, Dewi Rara Kuning yang sedang kalut langsung pergi menuju pantai selatan untuk melaksanakan semedinya, hingga akhirnya ia dapat bertemu dengan Nyi Ratu Kidul.

Dari pertemuannya dengan Ratu Pantai Selatan, Dewi Rara Kuning atau Dewi Lanjar pun diangkat sebagai pengikutnya. Ia lalu diberi tugas untuk mencegah seorang bernama Raden Bahurekso yang merupakan adipati Kendal pertama.

Kala itu, Raden Bahurekso tengah berusaha membuka lahan hutan untuk mendirikan kerajaan. Namun sayang, Dewi Lanjar gagal melaksanakan tugas tersebut. Hingga akhirnya ia malu untuk kembali ke pantai selatan dan bertemu Nyi Roro Kidul.

Atas seizin Ratu Pantai Selatan, Dewi Lanjar diperintahkan untuk mendirikan kerajaan gaib di pesisir pantai utara Laut Jawa. Ia pun diberi mandat sebagai peguasa sisi utara Laut Jawa.

Menurut kepercayaan masyarakat Pekalongan, keraton atau kerajaan gaib Dewi Lanjar terletak tepat di Pantai Pekalongan tempat bermuaran Sungai Slamaran. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *