Dimanakah Makam Istri Prabu Siliwangi, Nyai Subang Larang?

oleh -1.449 views
Situs sejarah Nay Subang Larang di Kota Subang, Jawa Barat (Foto:Kotasubang,com)

CARUBAN NAGARI-Nyai Subang Larang adalah istri Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Dewaprana, Raja Kerajaan Pajajaran. Nyai Subang Larang melahirkan 3 orang anak yang kelak menjadi para penguasa di Cirebon.

Kisah hidup Subang Larang telah banyak dibahas diberbagai sumber media. Baik media mainstream, blog maupun video-video youtube. Lalu dimanakah makam Nyai Subang Larang?

Kini ada Situs “Nyai Subang Larang di Subang” yang sering juga disebut-sebut sebagai “Makam Nyai Subang Larang”. Lokasinya di Kawasan Teluk Agung yang terletak di Desa Nanggerang Kecamatan Binong Kabupaten Subang kawasan yang juga dikenal Astana Panjang atau Muara Jati ini merupakan saksi sejarah riwayat perjalanan hidup seorang tokoh legendaris wanita tatar Pasundan (kini Jawa Barat—red) pada sekitar abad 16-17 masehi yang juga merupakan istri Prabu Siliwangi, yakni Nyai Subang Larang.

Mengutip naskah “Cariosan Prabu Siliwangi” yang ditulis dengan bahasa Jawa Cerbonan dan aksara Carakan pada tahun 1435 M di atas daluwang (kertas kulit kayu), menyebutkan nama Nhay (Nyai) Mrajalarangtapa Dyah Subang Larang.

Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN), Subang Larang bernama asli Kubang Kencana Ningrum. Nyai Subang Larang lahir pada 1404 M dan wafat tahun 1441 (menurut situs kotasubang.com). Sementara ada kisah lain menyebutkan Subang Larang wafat pada usia 40 tahun. Dengan demikian mestinya ia wafat pada tahun 1444.

Penyebutan nama Dyah Subang Larang jarang dan bahkan tidak pernah kita dengar. Dalam Naskah Cariosan Prabu Siliwangi yang ditulis tahun 1435, yaitu di zaman Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja) masih hidup bahkan masih dikenal dengan nama Pamanahrasa, tidak menyebut Subang Larang. Pada tahun 1435 itu, Pamanahrasa menyebut Subang Larang adalah Nyai Mrajalarangtapa putri Ki Gede ing Tapa (Ki Gedeng Tapa) seorang Mangkubumi Kerajaan Singapura Cirebon. Penyebutan Subang Larang ada pada Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari (disingkat CPCN) merupakan karya Pangeran Arya Cerbon pada tahun 1720.

Mengapa dalam teks naskah yang lebih tua tidak menyebut Subang Larang? Kita lihat penyebutan dalam salinan Naskah Cariosan Prabu Siliwangi tahun 1675 yang kini disimpan di Museum Geusan Ulun Sumedang. Pada naskah salinan menyebutkan “Nyai Mrajalarangtapa Dyah Subang Larang”. Munculnya kata Dyah pada naskah belakangan memiliki maksud yang kira-kira setara dengan almarhum/almarhumah. Jadi dapat kita simpulkan dalam kalimat: Nyari Mrajalarangtapa yang almahumah di Subang Larang. Nah… dari sinilah kita dapat mengerti dan paham mengenai keberadaan makam Nyai Subang Larang di Kabupaten Subang.

Meskipun Dyah dapat disetarakan dengan ‘yang berlalu’ atau “almarhumah di…”, tidak serta merta menunjukkan secara pasti lokasi makam. Berbeda halnya dalam naskah Sunda kuno menyebut “Lumahing…” yang artinya “dikebumikan di…”. Istilah Sang Lumahing atau Sang Mokta ing… lebih pasti keberadaan lokasi pemakaman sang tokoh. Berbeda dengan Dyah. Bisa jadi sang tokoh menghembuskan nafasnya (wafat) di lokasi yang disebutkan seperti “Dyah Subang Larang”. Dalam konteks ini, berdasarkan penelitian tim dari Kabupaten Subang, berkeyakinan bahwa situs Makam Subang Larang terkait Sejarah. Kini situs ini berstatus sebagai Cagar Budaya. Kini ada pula sebutan nama beliau sebagai Dewi Kumalawangi.

Ada contoh lain yaitu Putri Raja Sunda Prabu Linggabuana yang gugur di Bubat, yaitu Putri Citraresmi Dyah Pitaloka. Dalam bahasa Jawa Kuno kata dyah menunjukkan penghormatan, kata pithaloka berarti dunia nenek moyang, dunia para leluhur (Zoetmulder 1982, II: 1371), artinya memang putri tersebut telah tiada, lalu kata citra berarti perwujudan cemerlang (Zoetmulder 1982, I: 330), dan rasmi berarti keindahan yang cemerlang, sinar cahaya cemerlang (Zoetmulder 1982, II: 1518). Dengan demikian Citrarasmi dapat diartikan sebagai “cahaya yang cemerlang”, “cahaya yang indah menyenangkan”. Singkatnya kita dapat menyusun kalimat: Putri Citraresmi yang berlalu di Pitaloka (Putri cemerlang telah berlalu di Swargaloka). Namun, istilah dyah ini tidak menunjukkan dimanakah Citraresmi dimakamkan atau diperabukan. Zoetmulder berkesimpulan Citraresmi diperabukan di Citra Wulan atau Trawulan (Trowulan).


Beberapa kutipan yang diambil oleh Wibowo dari pendapat para peneliti terdahulu, dapat ditafsirkan bahwa nama Trowulan tersebut telah dikenal sejak abad ke-16 M. Mengacu kepada Serat Kanda yang digubah dalam abad sekitar awal abad ke-16 (Poerbatjaraka 1957: 95—96), memberitakan bahwa nama asli dari Trowulan adalah Citra Wulan yang kemudian diucapkan secara singkat menjadi Trawulan atau Trowulan sampai sekarang.

Jika Zoetmulder mengartikan ‘Dyah’ sebagai ‘yang telah berlalu’ kemudian setara dengan almarhum/almarhumah? Penulis berpendapat lain bahwa ‘Dyah’ berasal dari bahasa Sansekerta ‘vedya’ yang berubah menjadi ‘dyah; dya; dyam’, artinya:


1. Mengetahui atau memastikan
2. Dididik atau diajarkan
3. Menikah (to be married)
4. Terkenal (termashur

Jadi bila kita kompilasi makna dyah/dya/dyam adalah seseorang yang telah mendapatkan pengetahuan, kemashuran, dan pengajaran. “Dyah” Diartikan “Tersebutlah atau ditempatkan/mendapatkan di …” seperti gelar ‘Haji’ yang maknanya seorang ‘telah mengkaji -sesuatu- tingkat tinggi’. Jadi ‘Dyah Pitaloka’ diartikan ‘telah mendapatkan/ditempatkan di Swarga’ dam ‘Dyah Subang Larang’ diartikan “telah ditempatkan di Subang yang Agung” (istilah Subang, maknanya belum ditemukan sumber otentik -saya merasa kurang pas jika dari kata Sub-Ang yang bersumber dari istilah asing).

Istilah Dyah maknanya kemudian berubah di zaman kemudian yang diartikan: anak muda, anak perempuan. Padahal di zaman kuno Dyah tidak mengacu hanya untuk perempuan. Bagaimana dengan Dyah lainnya seperti: Dyah Balitung dan Dyah Lembu Tal? (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.