Cimanuk Meluap, Legenda Tenggelamnya Kerajaan Manukwara

oleh -638 views
ungai Tjimanoek saat tenang, sekitar tahun 1910. Tampak rakit penyeberangan di sebuah lokasi di sungai Tjimanoek Garoet, dengan latar belakang pemandangan gunung Tjikoerai. Foto: KITLV
ungai Tjimanoek saat tenang, sekitar tahun 1910. Tampak rakit penyeberangan di sebuah lokasi di sungai Tjimanoek Garoet, dengan latar belakang pemandangan gunung Tjikoerai. Foto: KITLV

CARUBAN NAGARI-Dalam Babad Indramayu disebutkan bahwa dalam rangka membangun Indramayu, Arya Wiralodra sempat bertempur dengan raja dari kerajaan siluman tersebut. Dia bertempur karena pada awalnya pendirian Indramayu menggangu ekosistem jin di kawasan Cimanuk.

Bagi masyarakat desa di sekitar bantaran Sungai Cimanuk, pada kisaran tahun 1950-1980-an, disebutkan, sudah tidak asing lagi dengan penampakan-penampakan mistis di Cimanuk, seperti suara kuda berlari dan bala tentara tempo dulu yang hilir-mudik berjalan beriringan di atas Sungai Cimanuk.

Di situ juga ada penampakan Jangjitan (manusia-manusia kecil seperti Tuyul) di Hutan Tanggul Cimanuk, penampakan Buncul (hewan gaib), penampakan Buaya Putih, bebunyian atau tetaluan/gamelan, dan lain sebagainya.

Namun kisah-kisah tersebut kemudian seperti musnah ditelan oleh zaman, ketika pada tahun 1990-an Indramayu secara keseluruhan teraliri listrik. Kisah-kisah mistis tersebut seolah hilang tertutupi modernisasi zaman.

Kisah mengenai Kerajaan Jin Cimanuk kemudian kembali muncul pada tahun 2000 an. Kisah tersebut bermula dari pembangunan jembatan yang menghubungkan Desa Bangkaloa Ilir di barat dan Desa Pilangsari di timur, jembatan ini dibangun melintasi sungai Cimanuk dengan panjang 1 Km lebih.

Dalam pembangunannya konon ditemukan keanehan-keanehan seperti susahnya dalam membuat cor-coran dalam pondasi jembatan dan lain sebagainya. Serta kisah-kisah mistis mengenai adanya berbagai macam bebauan yang dirasakan pekerja proyek pembuatan jembatan tersebut.

Setelah selesainya proyek pembangunan jembatan Bangkaloa Ilir, orang-orang yang pernah terlibat dalam pembangunan proyek  (mandor/pekerja) didapati meninggal, meskipun proses meninggalnya wajar (akibat Kecelakaan/sakit) akan tetapi masyarakat sekitar menyangkut pautkannya dengan hal-hal mistis, katanya meninggalnya karena wadal kerajaan siluman sungai Cimanuk.

Kasus kemudian bertambah runcing ketika seorang Ibu-ibu yang koma akibat sesuatu kecelakaan/sakit tersadarkan diri setelah kurang lebih 2 bulan masa koma, setelah sadar ibu-ibu tersebut menceritakan bahwa:

“Ketika koma itu dia dipekerjakan di Dapur Istana Kerajaan Jin Cimanuk, tugasnya sehari hari ngelap godong gedang (membersihkan daun pisang) yang digunakan sebagai alas untuk makan para penghuni kerajaan sungai Cimanuk, selain itu menurutnya juga didalam masa koma tersebut dia melihat mantan mandor /pekerja pembuatan jembatan Cimanuk Bangkaloa Ilir tersebut dijadikan abdi dalem di Istana tersebut, bahkan dikatakan orang-orang di Desanya yang dahulu meninggal di atas jembatan Cimanuk baik karena kecelakaan tunggal maupun kecelakaan non tunggal (tabrakan) terlihat menjadi abdi dalem di Istana jin tersebut.

Karena dalam setiap hari ibu-ibu tersebut dipekerjakan sebai pembersih daun pisang yang bertumpuk-tumpuk banyaknya, ibu-ibu tersebut merasa tidak betah, ingin pulang dan terus menerus menangis, sehingga salah satu tentara kerajaan Jin Cimanuk tersebut kemudian menayakan prihal mengapa ibu-ibu tersebut menangis, ibu-ibu tersebut kemudian menjawab ingin pulang, merasa kasihan salah satu tentara kerajaan tersebut menunjukan arah jalan pulang, dan setelah Ibu-ibu tersebut melangkah ke arah jalan pulang yang ditunjukan, tersadarlah kemudian ibu-ibu tersebut dari komanya”.

Bagi setiap orang yang pernah diceritakan mengenai keberadaan kerajaan Jin di Cimanuk, tentu kisah di atas menjadi penguat, adapun bagi anak-anak muda yang belum pernah mendengar kisah-kisah orang-orang tua dahulu tentu peristiwa tersebut memberikan pengetahuan baru bagi mereka, terlepas apakah pengetahuan tersebut benar atau tidak, yang jelas kisah tersebut memang sudah dituturkan sejak lama.

Ada hal menarik dari legenda Kerajaan Siluman Sungai Cimanuk di atas jika dikaitkan dengan sejarah tempo dulu, karena pada dasarnya legenda biasanya timbul akibat penyampaian sejarah yang dilebih-lebihkan hingga akhirnya tenggelam menjadi legenda. Karena penambahan dan pengurangan cerita, maka yang semula benar-benar peristiwa sejarah berubah menjadi legenda sementara legenda kemudian menjadi mitos.

Ada beberapa kemungkinan yang timbul dari munculnya legenda kerajaan siluman di Cimanuk, salah satunya adalah mengenai kisah Kerajaan Manukrawa yang pernah berdiri di bantaran atau tanggul sungai Cimanuk.

Lokasi kerajaan Manukrawa diperkirakan dekat dengan sungai muara sungai Cimanuk di daerah Indramayu sekarang. Dalam Naskah Wangsakerta, Kerajaan Manukrawa tersebut muncul sejaman dengan kerajaan Tarumanegara. Dalam Kitab Negara Kertabumi Kerajaan Manukwara dipimpin oleh seorang Raja bernama Bongalpati Kerajaan tersebut terletak di tepian muara sungai Cimanuk, dan musnah akibat banjir bandang.

Sementara dalam Naskah Sunda Kuno juga disebutkan nama Bumi Sagandhu yang berada di sebelah barat Mandala Manukrawa.

Bhumi Sagandhu atau Bhumi Segandhu selama ini diketahui sebagai nama komunitas penghayat kerohanian di daerah Krimun Losarang, atau sebagian lagi masyarakat mengenalnya sebagai judul lagu “Kidung Bumi Segandu” yang justru liriknya berlawanan dengan mandala Bumi Sagandhu yang tercatat dalan Naskah Sunda Kuno tersebut karena menyebut nama Wiralodra yang ada sekitar 1000 tahun kemudian.

Baca: Siapa Bhumi Segandhu?

Manukrawa dan Bumi Sagandhu adalah dua nama didaerah Indramayu yang disebut dalam Naskah Sunda Kuno, yang konon ada disekitar tahun 500 Masehi.

Manukrawa yang diyakini disekitar timur Cimanuk dan Bumi Sagandu yang diyakini berada didaerah Kertasari dan Blendung Losarang, tetap masih misteri dan belum terungkap sampai sekarang

Oleh karena itu kabar mengenai kerajaan Polomas, atau kerajaan bangsa siluman yang berada di dasar sungai Cimanuk, ada kemungkinan legenda  tersebut muncul berdasarkan peristiwa banjir bandang besar yang menenggelamkan kerajaan manukwara sehingga secara turun temurun masyarakat mempercayai jika kerajaan tersebut masih ada akan tetapi pindah ke alam lain. Karena begitulah memang sejarah menjadi legenda, kemudian legenda menjadi mitos. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *