Bukan Sinetron Ikatan Cinta, Ini Kisah Bujang Genjong dan Rara Gonjeng Abad 16

oleh -25 views
Naskah Bujang Genjong koleksi Bambang Irianto Digitalisasi: British Library

Wahosan (dibaca: Waosan) Bujang Genjong adalah Naskah kuno tasawuf dari Bumi Cirebon. Naskah (manuscript) ini berukuran 20.5 x 16 cm. Bidang tulisan untuk teks: 17 x 14 cm. Diperkirakan, menurut Biritish Library) ditulis pada abad ke-16 Masehi (?).

Media tulisan menggunakan kertas produksi pabrik Semarang (berdasarkan foto cover buku. Ditulis dengan aksara Jawa Carakan. Naskah asli milik Bambang Irian, Kesambi Cirebon Jawa Barat. Data digitalisasi dapat diakses di British Library dalam proyek Digitalisasi Naskah Kuno.

Satu naskah kuno yang disimpan oleh Rumah Budaya Pasambangan Jati; Wahosan Bujang Genjong. Naskah berupa tembang macapat menceritakan tentang sosok Bujang Genjong dan Rara Gonjeng yang sedang jatuh cinta. Tuntutan “pemahaman ilmu sejati” yang merupakan syarat untuk melamar seorang perempuan, justru membawa dirinya lebih dalam ke dalam fitrah tasawuf. 

Dalam teks ini, Bujang Genjong sangat bersemangat untuk mendapatkan sesuatu yang membuatnya bangga. Representasi tekstual petualangan pemuda dalam mengejar ilmu manunggal lebih jauh mengacu pada gambaran tentang risiko dan tanggung jawab yang harus dipikul setiap orang untuk mencapai kebahagiaannya. 

Secara kultural, yang terlihat dari isi naskah ini adalah budaya pranikah yang jika dilihat dari sisi calon istri dapat menarik kesimpulan tentang kapasitas dan ketulusan calon suaminya. Dan dari calon suami, pembentukan kemampuan dan ketabahan hingga cara dan tahapan yang harus dijalani dan diperjuangkan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *