Berburu Freemason di Kota Wali Cirebon (Tamat)

oleh -36 views

CARUBAN NAGARI-Perkembangan jumlah anggota Loji Humanitas Tegal sebagai loji yang terdekat dengan Cirebon serta beberapa anggotanya bermukim di Cirebon tidak pernah berjumlah lebih dari 45 orang.

Baca:

Berburu Freemason di Kota Wali Cirebon (Bagian Kesatu)

Berburu Freemason di Kota Wali Cirebon (Bagian Kedua)

Berburu Freemason di Kota Wali Cirebon (Bagian Ketiga)

Dari data penelitian Th. Stevens, menandakan bahwa secara kuantitatif tidak terdapat kenaikan yang signifikan mengenai jumlah anggota sebagaimana terdapat dalam flowchart. Jumlah anggota setiap tahun
rata-rata hanya 30-40 orang. Jumlah tersebut berbeda jauh dengan jumlah anggota loji di kota-kota besar yang mencapai 200 orang lebih pada kurun
waktu tersebut seperti jumlah anggota Loji ‘De Ster in het Oosten’ di Batavia dan Loji ‘St. Jan’ di Bandung.

Terlepas dari jumlah anggota Loji ‘Humanitas’ yang terbatas seperti pada flowchart, namun aktifitas di loji tersebut turut serta mendukung terbentuknya komunitas Freemason Cirebon yang menginspirasi pembentukan cabang Freemason di Cirebon kelak 23 tahun setelah loji ini didirikan yaitu tahun 1920.

Sebelum Kring Cirebon berdiri, terdapat catatan mengenai Freemasonry di Cirebon pada akhir abad 19 dan awal abad 20. Buku Gedenkboek Vrijmetselarij mencatat bahwa sekitar tahun 1893 telah terdapat beberapa Freemason yang belum diakui secara resmi di loji-loji, yang tersebar di beberapa kota yaitu Bandung, Blitar, Cirebon, Yogyakarta, Padang, Pekalongan, Rembang, Salatiga, Surabaya dan Tegal dikutip De Ster in het Oosten, Weltevreden, La Constante et Fidele, Semarang, De Vriendschap,”1917).

Hal tersebut menunjukkan bahwa telah terdapat Freemason dari wilayah Cirebon namun belum teridentifikasi dengan jelas. Catatan lain menunjukkan bahwa terdapat beberapa Freemason yang tinggal di Cirebon pada tahun 1910 dikutip Indisch maçonniek tijdschrift, jrg 17, 1911-1912, 1911).

Fakta tersebut tercatat dalam laporan tahunan salah satu loji terbesar di Hindia Belanda yaitu Loji Constante et Fidele yang telah berdiri sejak tahun 1801 di Semarang. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa pada pertemuan di Loji Constante et Fidele yang berlangsung bulan Juli 1910, terdapat seorang anggota tua berusia 70 tahun lebih yang bertempat tinggal di Cirebon sering berhalangan hadir. Transportasi Cirebon ke Semarang dimungkinkan karena sejak 1908 perjalanan dapat ditempuh menggunakan kereta api perusahaan S.C.S (Semarang Cirebon Stoomtram Maatschappij) yang dilatarbelakangi kepentingan ekonomi kolonial.

Pembangunan jalur transportasi membuat sangat mudah dan murah untuk bepergian misalnya, dari Tegal dan Cirebon ke Semarang, Solo atau Yogyakarta dikutip dari Indisch maçonniek tijdschrift, jrg 19, 1913-1914,
1914
.

Ketidakhadiran Freemason tua dari Cirebon karena usia yang cukup melelahkan untuk menempuh jarak jauh 373 km Cirebon ke Semarang meskipun menggunakan kereta api. Namun tidak ditemukan daftar nama sehingga belum jelas siapa Freemason tua yang tinggal di Cirebon pada catatan tersebut.

Pada periode 1911-1916 tidak ditemukan adanya aktifitas dari Freemason Cirebon berdasarkan Indisch Maçonniek Tijdschrift yaitu laporan tahunan loji-loji di Hindia Belanda. Informasi mengenai Freemasonry di Cirebon ditemukan kembali pada tahun laporan tahunan 1917.

Pada tanggal 15 Desember 1917, tercatat hadirnya seorang Freemason dari Cirebon pada pertemuan Loji “St. Jan” di Bandung. Pertemuan tersebut dihadiri oleh D. C. A. Lugt, enam Freemason dari Batavia, Magelang dan Surabaya, serta P. A. Roelofsen, Koning, serta lima orang Freemason dari Batavia, Buitenzorg (Bogor), Cirebon dan Banyubiru dikutip Indisch maçonniek tijdschrift, jrg 23, 1917-1918, 1918.

Catatan selanjutnya yang menunjukkan Freemasonry di Cirebon adalah kesaksian seorang Freemason bernama L. W. van Suchtelen (L. W. van Suchtelen memiliki gelar bangsawan jhr yaitu singkatan dari jonkheer semacam sebutan “lord”, ia berprofesi sebagai ketua sub-komite pada Vereeniging tot het verleeuen van hulp aan ontslagen gevangenen bersumber Regerings-almanak van Nederlandsch-Indië 1920 Tweede Gedeelte: Kalender en Personalia, yang memberikan ceramah tentang Freemasonry di loji ‘St. Jan’ Bandung tahun 1919.

Ceramah tersebut bersumber pada pengalamannya sebagai Freemason yang melakukan tur ke kota-kota di Jawa yaitu Cirebon, Tegal, Semarang, Salatiga, Solo, Probolingo, Malang, Surabaya, Madiun, Yogya dan Magelang dikutip dari Indisch maçonniek tijdschrift, jrg 24, 1918-1919, 1919.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.