Berburu Freemason di Kota Wali Cirebon (Bagian Ketiga)

oleh -24 views
Soemitro Kolopaking dikukuhkan menjadi Suhu Agung pertama Loge Agung Indonesia pada tahun 1955. (Dok. Dr. Th. Stevens/Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia dan Indonesia 1764-1962)
Soemitro Kolopaking dikukuhkan menjadi Suhu Agung pertama Loge Agung Indonesia pada tahun 1955. (Dok. Dr. Th. Stevens/Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia dan Indonesia 1764-1962)

CARUBAN NAGARI-Keberadaan orang Belanda di Cirebon merupakan sebenarnya merupakan minoritas, berdasarkan perbandingan jumlah penduduk di Karesidenan Cirebon (jumlah total sekitar 1,5 juta jiwa) ataupun jika dibandingkan berdasarkan jumlah penduduk di ibukota Karesidenan yaitu kota Cirebon saja (jumlah total sekitar 20.000 jiwa).

Baca:

Berburu Freemason di Kota Wali Cirebon (Bagian Kesatu)

Berburu Freemason di Kota Wali Cirebon (Bagian Kedua)

Menurut data yang tercatat F. Wiggers, 1899, Albercht’s Almanak Prijai dari Taon 1899, Kaloewaran Taon jang Katiga, jumlah penduduk di Cirebon tahun 1895, Orang Belanda 426, Orang Cina 2.885, Orang Arab 778. Jumlah Penduduk di Ibukota Karesidenan Cirebon tahun 1895) 20.702.

Berdasarkan data tersebut, jumlah orang Belanda di ibukota Karesidenan Cirebon adalah 426 orang yang merupakan jumlah yang kecil hanya 2% dibandingkan jumlah pribumi Jawa (orang Item) yaitu 16.464 (79,5%).

Sebagai bangsa penjajah yang berkuasa, catatan tersebut menunjukkan bahwa jumlah minoritas tidak menjadi persoalan karena mereka memiliki wewenang penuh atas penyelenggaraan kekuasaan di semua bidang seperti sistem pemerintahan, militer, ekonomi, dan kontrol atas masyarakat kolonial.

Meskipun minoritas, J. S. Furnivall mengklasifikan strata golongan Eropa (termasuk Belanda) sebagai kelas pertama, sedangkan bangsa Timur Asing kelas kedua dan bumiputera sebagai mayoritas di kelas ketiga yaitu terbawah.

Jumlah minoritas tersebut tidak mempengaruhi penerapan budaya Eropa dalam aspek organisasi perkumpulan, khususnya dalam melaksanakan ajaran dan pertemuan Freemasonry bagi anggota-anggotanya di Cirebon walaupun tidak berjumlah banyak.

Dalam penelitian Th. Stevens tercatat anggota loji “Humanitas” di Tegal dimana anggotanya berasal dari Cirebon selain Tegal, Pemalang, Pekalongan, tidak pernah berjumlah lebih dari 45 anggota.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.