Apakah Ada Walisongo Keturunan Tionghoa?

oleh -2.014 views
Makam Malik Ibrahim di Gresik (KITLV)
Makam Malik Ibrahim di Gresik (KITLV)

CARUBAN NAGARI-Sejarah terkait beberapa Walisongo adalah keturunan Tionghoa masih menjadi perdebatan sampai sekarang. Meskipun demikian, dengan catatan sejarah yang ditemui, rasa-rasanya sulit membantah kalau beberapa dari Walisongo merupakan keturunan Tionghoa.

Hew Wai Weng, dalam bukunya yang berjudul Berislam ala Tionghoa: Pergulatan Etnisitas Dan Religiositas Di Indonesia mengungkapkan setidaknya ada empat dari sembilan Walisongo yang merupakan keturunan Tionghoa. Mereka adalah Sunan Ampel, Sunan Drajat, Sunan Bonang, serta Sunan Muria.

Sumber lainnya, Walisongo dari Cina dari lampiran naskah Catatan Tahunan Melayu dalam buku Tuanku Rao tulisan Ir Mangaradja Onggan Parlindungan yang terbit tahun 1964.

Dalam bukunya, Parlindungan menceritakan asal muasal naskah itu yang diperoleh dari pejabat Belanda Poortman, teman karib ayahnya, tahun 1940. Poortman yang disebut pernah menjadi residen mendapat naskah itu setelah menggeledah semua arsip di Kelenteng Sam Po Kong Semarang dan Talang Cirebon tahun 1928.

Penulis sejarah Slamet Muljana memakai lampiran naskah Parlindungan itu sebagai salah satu sumber bukunya yang berjudul Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara terbit tahun 1968.

Dia memercayai naskah sebagai kekayaan sumber penulisan awal sejarah Islam di Jawa. Karena ada kemungkinan walisongo berasal dari Cina. Buku itu lantas dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung tahun 1971.

Peneliti sejarah dari Belanda HJ de Graaf dan TH Pigaeud juga meneliti naskah Parlindungan. Hasil penelitiannya diterbitkan berupa buku Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th Centurie: The Malays Annals of Semarang and Cirebon terbit tahun 1984.

Mereka tertarik juga membaca dan membandingkan dengan sumber sejarah catatan pelaut Eropa, Cina, surat-surat pemerintah kolonial, dan babad Jawa tentang para walisongo.

Menurut keduanya, naskah itu menarik tapi juga meragukan. Meragukannya karena naskah aslinya tidak ada meskipun sudah dicari hingga ke museum arsip Belanda. Naskah Lampiran itu hanya berupa terjemahan dalam bahasa Melayu dengan tambahan catatan dari Parlindungan sendiri.

Keraguan lain adalah nama Poortman yang disebut Parlindungan pernah menjadi residen tidak ditemukan identitasnya di catatan administrasi Belanda. Apalagi ketika isinya dicocokkan dengan sumber lain tidak ada keselarasan kejadian, tokoh, dan tahun kejadian.

Misal dalam Catatan Tahunan Melayu ini disebut Laksamana Sam Po Bo, nama lain dari Cheng Ho, tinggal sebulan di Semarang. Tapi Catatan Ma Huan, juru tulis Cheng Ho tak pernah menyebutkan berlabuh di Semarang.

Begitu juga dalam naskah itu disebut Sam Po Bo meninggal tahun 1431. Padahal antara tahun 1432-1433 dia masih memimpin ekspedisi di negeri-negeri Nan Yang alias Asia Tenggara.

Catatan Tahunan Melayu itu ditulis dengan model periode tahun kemudian diterangkan peristiwa yang terjadi. Misal, dalam pembukaan ditulis periode 1368-1645. Di Tiongkok memerintah Ming dynasty yang sangat banyak menggunakan official orang-orang Tionghoa/Islam/Hanafi dari Yunnan.

1405-1425 Armada Tiongkok/Ming Dynasty di bawah Laksamana Haji Sam Po Bo menguasai perairan Nan Yang. (Asia Tenggara).

Inti dari penulisan naskah ini menceritakan pengaruh Kekaisaran Dinasti Ming dengan kehidupan sosial politik di era akhir Majapahit dan lahirnya Kerajaan Demak. Laksamana Sam Po Bo dan orang-orangnya punya peran dominan membangun Jawa di era itu.

Naskah ini menarik minat sejarawan karena ada detail peristiwa dan tokoh pejabat Cina di lingkungan Istana Majapahit yang tidak diceritakan dalam sumber lain. Inilah sensasi naskah Parlindungan ini.

Diceritakan, Laksamana Haji Sam Po Bo  atau Cheng Ho pada tahun 1407 memimpin armada Tiongkok Dinasti Ming merebut Kukang (Palembang) di Sumatra. Kukang disebut tempat komunitas Cina dari Hokian yang orang-orangnya menjadi perampok. Para perampok ini dihukum mati. Lalu Sam Po Bo menempatkan muslim dari Yunnan mazhab Hanafi membangun Kukang.

Komunitas Cina muslim kemudian dibangun di Sambas, Malaya, Jawa, dan Filipina. Di Jawa didirikan masjid  di Ancol Jakarta, Sembung Cirebon, Lasem, Tuban, Tse Tun/Gresik, Jiao Tung/Joratan, Cang Ki/Mojokerto, Ini periode 1411-1416.

Tahun 1413 Armada Tiongkok singgah satu bulan di Semarang untuk perbaikan kapal. Di kota ini Laksamana Haji Sam Po Bo, Haji Ma Hwang, dan Haji Fe Tsin shalat di Masjid Tionghoa Hanafi. Masjid ini sekarang menjadi Kelenteng Sam Po Kong Semarang. Bekas mihrab masjid masih ada di kelenteng ini.

Enam tahun kemudian Sam Po Bo menempatkan Haji Bong Tak Keng di Campa untuk mengawasi perkembangan komunitas muslim Cina di Nan Yang. Bong Tak Keng kemudian menempatkan Haji Gan Eng Cu di Manila Filipina mengurusi komunitas Tionghoa di situ.

Tahun 1423 Haji Gan Eng Cu dipindah dari Manila ke Tuban Jawa menjadi konsul jenderal yang melayani komunitas Cina di Jawa, Kukang, dan Sambas. Di zaman itu Tuban merupakan pelabuhan utama Kerajaan Majapahit.

Karena jasa memajukan pelabuhan, Gan Eng Cu akhirnya diangkat menjadi kepala pelabuhan Tuban dengan gelar a lu ya oleh Raja Majapahit Su King Ta yang memerintah tahun 1427-1447. Gelar a lu ya kemungkinan besar dari kata Arya menurut lidah Cina.

Lantas siapakah Bong Tak Keng dan Gan Eng Cu ini? Jika diselaraskan dengan cerita Jawa boleh jadi Bong Tak Keng adalah Syekh Ibrahim Asmorokondi yang makamnya ada di Desa Gesikharjo Kec. Talang Tuban.

Gan Eng Cu melihat gelar dan jabatannya hampir mirip dengan sosok Arya Tejo, Adipati Tuban di zaman Ratu Majapahit Suhita. Lidah Cina menyebutnya Su King Ta. Peristiwa ini dicatat tahun 1423.

Catatan lainnya menyebut Haji Ma Hong Fu diangkat menjadi duta besar di ibukota Majapahit. Dia ini menantu Bong Tak Keng. Kedatangan Ma Hong Fu diantar Haji Fe Tsin yang sudah tiga kali berkunjung ke Kraton Majapahit.

Ada informasi menarik lain. Tahun 1430 Laksamana Sam Po Bo merebut Tu Ma Pan kemudian menyerahkan daerah itu kepada Ratu Su King Ta. Tapi dia mengangkat orang Tionghoa muslim Gan Eng Wan menjadi Adipati Tu Ma Pan. Kemungkinan Tu Ma Pan ini adalah Tumapel Singasari.

Periode berikutnya muncul nama Swan Liong, kepala pabrik mesiu di Semarang dipindahkan Gan Eng Cu menjadi kapten komunitas Cina di Kukang (Palembang). Swan Liong disebut seorang perwira peranakan Tionghoa dari Cangki (Mojokerto) putra Yang Wi Sa Sa dari ibu dayang Tionghoa di Istana Majapahit.

Yang Wi Sa Sa amat mirip dengan nama Hyang Wisesa. Ini gelar Raja Majapahit Wikramawardana menantu Raja Hayam Wuruk.

Sosok pertama walisongo muncul setelah Bong Swi Hoo menjadi asisten Swan Liong di Kukang tahun 1445. Bong Swi Hoo adalah cucu Haji Bong Tak Keng. Kemudian Bong Swi Hoo diantar ke Tuban menghadap Gan Eng Cu agar diberi jabatan kapten Cina muslim. Setahun kemudian dia dikawinkan dengan anaknya.

Dalam cerita babad, menantu Adipati Tuban adalah Sunan Ampel yang menikahi Nyi Ageng Manila. Melihat namanya ada kemungkinan putrinya ini lahir di Kota Manila Filipina sewaktu dia menjadi konsul di negeri itu.

Nama Swan Liong sejajar dengan nama Arya Damar atau Arya Dillah yang dalam cerita babad disebut pejabat Majapahit muslim saudara dari Putri Campa. Arya Damar menjadi Adipati Palembang.

Sosok dua nama ini sama orangnya karena ada penjelasan di naskah ini mirip dengan cerita babad. Swan Liong disebutkan mengasuh dua anak. Jin Bun dan Kin San.

Jin Bun putra Kung Ta Bu Mi, raja Majapahit dari dayang Cina. Nama Jin Bun sudah masyhur sebagai nama kecil Raden Patah.

Kung Ta Bu Mi sebutan lidah Cina untuk nama yang mirip dengan Bhre Kertabumi. Sedangkan Kin San adalah Raden Husin, anak Arya Damar dari dayang Cina ibu Jin Bun yang dinikahinya setelah dicemburui oleh Putri Campa dan dibawa ke Palembang.

Bong Swi Hoo semakin jelas identitasnya mengarah ke Sunan Ampel, walisongo pertama, karena dalam penjelasan berikutnya disebutkan setelah bertugas sebagai kapten komunitas muslim di Jiautung (Bangil), dia pindah ke Ngampel Surabaya mengendalikan semua komunitas Cina muslim.

Keputusan ini dilakukan setelah meninggalnya Sam Po Bo, Bong Tak Keng, dan Gan Encu, armada dinasti Ming tak lagi ekspedisi ke Nan Yang. Situasi politik berubah. Orang-orang Tionghoa non muslim mengambil alih dominasi komunitas muslim dan mengubah masjid menjadi kelenteng. Sam Po Bo dipuja-puja dan didewakan berupa patung yang ditempatkan di mihrab.

Di kalangan komunitas muslim posisi Bong Swi Hoo jadi dominan. Jin Bun dan Kin San setelah dewasa dikirim Swan Liong ke Bong Swi Hoo. Jin Bun diberi tanah di Bing To Lo (Bintoro) dan mengembangkannya hingga menjadi Kerajaan Demak. Jin Bun mempunyai anak bernama Yat Sun. Dalam sejarah dikenal bernama Pati Unus.

Kin San dikirim ke istana menjadi ahli membuat mercon untuk pesta raja. Kemudian dia diangkat menjadi Adipati Semarang dan membuka penggergajian kayu dan galangan kapal besar.

Tapi ada yang aneh dalam naskah ini penulisnya tak mengenal anak dan murid  Bong Swi Hoo saat mampir ke Semarang. Penulis naskah ini hanya menyebut seorang putra dan bekas murid Bong Swi Hoo datang melihat-lihat galangan kapal  dan Kelenteng Sam Po Kong di Semarang. Keduanya tak bisa berbahasa Tionghoa.

Kemungkinan dua orang ini adalah Sunan Bonang dan Sunan Giri yang sangat terkenal di legenda masyarakat Jawa namun tidak dikenal masyarakat Cina. Walaupun dia anak pemimpin terkenal Bong Swi Hoo dari ibu Nyai Ageng Manila.

Masjid Demak yang populer dibangun walisongo dengan arsitek Sunan Kalijogo, dalam naskah ini disebut yang membangun para tukang kayu Tionghoa non muslim dari galangan kapal Semarang pimpinan Gan Si Cang, anak Gan Eng Cu, konjen Tuban.

Bahkan soko tatal yaitu satu tiang Masjid Demak yang terbuat dari susunan potongan kayu dikatakan buatan tukang kapal Cina bukan Sunan Kalijogo. Soko tatal itu dirangkai menurut konstruksi master kapal jung zaman Dinasti Ming yang disusun sangat teliti. Tiang itu fleksibel dan tahan goncangan.

Tahun 1513 dikabarkan seorang Ta Cih, sebutan Arab bagi orang Cina, bernama Ja Tik Su kapalnya rusak dan diperbaiki di galangan Semarang. Ja Tik Su diantar oleh Kin San dan Yat Sun ke Demak menemui Raden Patah.

Ja Tik Su orang Arab ini sepertinya Jakfar Shodiq yang kelak disebut Sunan Kudus setelah membangun kota al-Quds. Prasastinya ada di Masjid Kudus. Jakfar Shodiq  ini akhirnya menjadi penasihat Raden Patah dan memberinya gelar sultan.

Disebutkan juga Jakfar Shodiq yang mengenalkan mazhab Syafi’i kepada sultan dan menyebarkan ke masyarakat. Sejak itu mazhabnya berganti dari Hanafi ke Syafi’i ketika peran muslim Cina makin menurun.

Nama walisongo lain yang tidak dikenal dalam naskah ini adalah Sunan Gunung Jati. Sosok ini hanya disebut Panglima Tentara dari Demak bersama Kin San mengunjungi komunitas Cina di Talang dan Sarindil Cirebon. Ketika pensiun Panglima Tentara Demak balik ke Talang mendirikan Kerajaan Cirebon. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.