3 Tahi Lalat Membentuk Segitiga, Apakah Anda Memiliki Ciri Keturunan dari Prabu Siliwangi?

oleh -13,455 views

CARUBAN NAGARI-Prabu Siliwangi dikenal masyarakatnya kala itu sebagai raja yang sangat arif dan bijaksana. Bahkan, Prabu Siliwangi sampai saat ini masih dijadikan sebagai panutan karena kearifan dan kebijaksanaanya.

Pada jaman Prabu Siliwangi, kala itu masyarakat sudah mengenal dengan namanya agama ataupun kepercayaan. Ajaran yang terkenal pada jaman Prabu Siliwangi adalah Jati Sunda. Didalam ajaran Jati Sunda tersebut mengenal 3 falsafah hidup yang dianut pada jaman itu. Falsafah hidup itu dikenal dengan sebutan Tri Tangtu di Buana.

Dalam Ajaran Jati Sunda dikenal falsafah Tri Tangtu di Buana.

  1. Falsafah Rama, Rama juga bisa disebut atau bisa dikatakan sebagai Pendiri, Kepala Kampung, dan Kepala Daerah. Tugas seorang Rama dalam Tri Tangtu Sunda Buana adalah membimbing dan melayani semua keperluan rakyatnya.
  2. Falsafah Resi, falsafah Resi bisa juga disebut atau dikatakan Pandito atau Cipaku. Tugas Resi adalah untuk membimbing juga mendidik rakyat menuju kepada jalan Tuhan.
  3. Falsafah Ratu, falsafah Ratu bisa disebutkan atau dikatakan Darma Raja, Prabu atau Pemimpin seluruh rakyat. Tugas Ratu atau Darma Raja ini adalah memimpin dan membuat kebijakan yang berhubungan dengan rakyat.

Terkait dengan ketiga ciri khas tersebut, maka muncul keyakinan Prabu Siliwangi juga mempunyai ciri-ciri fisik khusus. Adapun ciri khusus tersebut adalah:

  1. Keturunan Prabu Siliwangi mempunyai 3 tahi lalat yang membentuk segitiga.
  2. Keturunan Prabu Siliwangi dari Cirebon yang berhubungan dengan Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah itu juga mempunyai ciri khusus. Ciri khusus keturunan dari Prabu Siliwangi dari Cirebon ini adalah terdapat tanda tubuh di kuku jari tangan dan juga jari kaki, ada garis lurus putih baik ditengah atau di pinggirnya. Garis lurus tersebut diartikan bahwa keturunan Prabu Siliwangi yang berawal dari Cirebon atau keturunan dari Syekh Syarif Hidayatullah yang beragama Islam, mempunyai jalan yang lurus untuk menuju pada Tuhan.

Itulah beberapa ciri khas dan secara fisik dari Prabu Siliwangi yang sering beredar dan kita ketahui.

Apakah anda memiliki ciri khas dan ciri fisik khusus dari Prabu Siliwangi?

Berdasarkan penelusuran carubannagari.radarcirebon.com, para keturunan Prabu Sliwangi dari Jalur Nyai Subang Larang hingga berpangkal pada Syeikh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati telah terdokumentasi dengan baik. Terdapat buku khusus yang disusun oleh pengurus paguyuban dan diupdate pada periode waktu tertentu. Setiap keturunannya tercatat, bahkan untuk seorang bayi yang lahir tahun 2021 ini. Contohnya, ayah angkat penulis di Ciumbuleuit Bandung adalah keturunan Syeikh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dan berarti keturunan Prabu Siliwangi. 

Lalu bagaimana keturunan prabu Siliwangi dari jalur Ibu Suri Nhay Kentring Manik Mayang Sunda?

Bila melihat alur sejarahnya, Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja) hingga runtuhnya Kerajaan Pajajaran, dicatat bahwa dari Nhay (Sakyan/Sakean) Kentring Manik Mayang Sunda menjadi raja-raja Pajajaran:

  1. Surawisesa (1521 – 1535), bertahta di Pakuan
  2. Ratu Dewata (1535 – 1543), bertahta di Pakuan
  3. Ratu Sakti (1543 – 1551), bertahta di Pakuan
  4. Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
  5. Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari Pandeglang
Mungkin gambar teks
Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi dari Nhay Kentring Manik Mayang Sunda

Dari para keturunan Sakyan Kentring Manik Mayang Sunda di atas, misalnya Surawisesa.  Prabu Surawisesa (Raden Sanghyang) yang menikah dengan Ratu Kiranawati maka berputra:

  1. Dewata Buana alias Ratu Dewata yang menjadi penguasa di Pakuan Pajajaran yang berputra ratu Sakti dan Mayangsari, sedang Ratu Sakti berputra ratu Nilakendra
  2. Raden Jayaraksa memimpin masyarakat Luragung dengan gelar Ki Gedeng Luragung kemudian menikah dengan Nyi Ageng Larasati maka berputra Adipati Kuningan Raden Suranggajaya seorang putra angkat Sunan Gunung Jati dan Putri Cina Ong Tien (Ratu Rara Semanding) putri Kaisar Hong Gie dari dinasti Ming.

Permaisuri Prabu Surawisesa adalah Dewi Kania atau Kinawati atau Ratu Kiranawati alias Sekarwangi alias Ratu Kebagusan alias Ratu Tanjung Jaya seorang Ratu kerajaan Tanjung Barat. Kerajaan Tanjung Barat terletak di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sekarang. Kinawati adalah puteri Mental Buana, cicit Mundingkawati yang kesemuanya penguasa di Tanjung Barat. Dalam naskah lontar Carita Parahyangan, hanya menyebut wilayah tersebut sebagai “Tanjung”.

Dikisahkan Prabu Surawisesa sendiri akhirnya masuk Islam dan menikah dengan Kiranawati. Kiranawati wafat pada 1579, dimakamkan di Ratu Jaya, Depok. 

Mungkin gambar teks yang menyatakan 'Linggabuanawisésa Niskala Wastu Kancana Bunisora Dewa Niskala E Gedeng Sindangkasılı Jayadewata/ Sri Baduga Ambelkasih Banyak Catra/ Kamandaka Banyak Ngampar/ Gagak Nganpar Ratna Pamekas/ Reina Ayu Mrana'
Silsilah Keturunan Prabu Siliwangi terhubung dengan
Kerajaan Dayeuhluhur dan Pasir Luhur Banyumasan
Jawa Tengah

Tentu masih banyak lagi jalur lain dalam nasab silsilah ke Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja). Misalnya dari Kerajaan Pasirluhur, Kerajaan Dayeuhluhur, Nusa Tembini, Talagamanggung, Kerajaan Sumedang Larang, Kerajaan Galuh Salawe, Kerajaan Imbanagara, Kerajaan Jampang Manggung, Kandangwesi, Cangkuang dan lain sebagainya hingga jejaknya belum terkodifikasi dengan baik dan belum lengkap hingga sekarang.

Mengutip naskah Sunda kuno yang ditulis di atas kulit pohon (daluwang) yang kini disimpang di Museum Geusan Ulun Sumedang yakni “Naskah Cariosan Prabu Siliwangi” yang ditulis tahun 1435 M dan disalin ulang beberapa kali hingga abad ke-19. Dalam kisah Cariosan Prabu Siliwangi, menerima persembahan para putri atau adik raja untuk dinikahi Prabu Siliwangi. Pernikahan itu lebih banyak bersifat politis dalam upaya menyatukan federasi kerajaan Galuh dan federasi Kerajaan Sunda menjadi satu Kerajaan yang disebut Kerajaan Sunda dan kita mengenalnya lebih populer sebagai Kerajaan Pajajaran. Dalam naskah itu, Prabu Siliwangi menyatakan boleh menisbatkan leluhur dari silsilah para putri itu kepadanya, baik keturunan biologis maupun keturunan spiritual. Oleh karena itu, di zaman sekarang kita mengenal seseorang sebagai titisan Prabu Siliwangi meskipun, mungkin secara biologis tidak bernasab ke Prabu Siliwangi.

Rujukan

  1. “Babad Prabu Siliwangi, Syekh Siti Jenar dan Penyebaran Islam di Betawi” republika.co Selasa 22 Mar 2016. Diakses 18 September 2021. 
  2. Atja (1968). Carita Parahiyangan: Naskah Titilar Karuhun Urang Sunda. Bandung,  Jajasan Kebudajaan Nusalarang.
  3. Danasasmita, Saleh. 2014. “Menemukan Kerajaan Sunda”. Bandung: Kiblat Buku Utama.
  4. Hageman, JJ. 1852. “Geschiedenis der Sundalande”. Monograf. Batavia : Lango versi digital
  5. Permana, Agus Setia., “Pakuan (1482-1579): Upaya rekonstruksi sejarah melalui sumber tradisional dan sejarawan modern”. tuturussangrakean.blogspot.co.id   
  6. Mago: Cruzada dos Feiticeiros Perseguidores do Vácuo. Site.google.com
  7. “Kesedihan di Balik Prasasti Batutulis” oleh Irfan Teguh 24 September 2017. Tirto.id Diakses 21 Nopember 2019
  8. Tresnawati, Euis.,. “Kerajaan Sumedang Larang” E-Jurnal “Patanjala” Kemendikbud. pdf
  9. “Naskah Asli Cariosan Prabu Siliwangi” digitalisasi EFEO pada flip book maker
  10. “Cariosan Prabu Siliwangi” balangantrang Diakses 2 Juni 2019
  11. Sunarto H. & Viviane Sukanda-Tessier (Ed). 1983. “Cariosan Prabu Siliwangi”. Lakarta; Bandung: Lembaga Penelitian Perancis untuk Timur Jauh ; Ecole francaise d’Etreme-Orient. (EFEO).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.