3 Kerangka Manusia di Situs Kumitir Era Majapahit, 2 Terindentifikasi di Kawasan Istana Bhre Wengker

oleh -574 views
Tim Antropologi Forensik Universitas Airlangga Surabaya mengidentifikasi kerangka manusia yang utuh di Situs Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabuoaten Mojokerto, Jawa Timur, Selasa (16/3/2021).

CARUBAN NAGARI-Ekskavasi yang dilakukan tim Balai Perlindungan Cagar Budaya Jawa Timur (BPCB Jatim) di Situs Kumitir, yang disebut-sebut terkait dengan peninggalan Kerajaan Majapahit, dikejutkan dengan temuan beberapa kerangka atau tulang belulang manusia di kedalaman 60 centimeter, tepatnya di  sektor B Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto.

Baca: Di Kedalaman 60 Centimeter Tengkurap Tertimbun Batu, Temuan Kerangka Manusia di Situs Peninggalan Majapahit

Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur menggandeng  tim antropologi Universitas Airlangga, Surabaya untuk mengidentifikasi kerangka manusia yang ditemukan di Situs Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Mojokerto. Upaya ini akan berguna bagi proyek ekskavasi dan penelitian lebih lanjut pada cagar budaya peninggalan era Kerajaan Majapahit di abad ke-13.

Dikutip dari Harian Kompas edisi 16 Maret 2020 disebutkan temuan kerangka itu kemudian dikomunikasikan dengan tim antropologi Unair untuk identifikasi. Tim BPCB juga kemudian membuka lapisan bolder yang sempat menutupi kerangka itu. Ada sedikit rongga antara lapisan boulders dan kerangka. Setelah pembukaan lapisan, kerangka itu dalam posisi tengkurap, rangka tangan di samping, dan tengkorak kepala condong ke barat.

Menurut hasil kajian BPCB Jatim, Situs Kumitir merupakan suatu kompleks bangunan yang dikelilingi tembok bata dengan luar perkiraan 6,2 hektar. Kompleks ini menghadap ke barat atau arah pusat Majapahit. BPCB telah menemukan tiga dari empat sudut benteng. Sudut yang sedang dicari berada di sisi tenggara.

Di masa awal Majapahit abad ke-13, penguasa Wengker ketika itu adalah kesatria bernama Kudamerta. Lelaki ini, menurut kitab Pararaton, menjadi menantu Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana), pendiri Majapahit. Bhre atau Batara Wengker menikahi Rajadewi Maharajasa (Bhre Daha), yang juga adik Tribhuwana Wijayatunggadewi (Bhre Kahuripan), dan mendapat gelar Wijayarajasa.

Kesimpulan itu didukung keterangan pada naskah-naskah kuno, yakni Negarakertagama, Pararaton, dan Kidung Wargasari. Keterangan itu dipadukan dengan legenda peta-peta Majapahit era Hindia-Belanda, yakni sketsa rekonstruksi Maclaine Pont, Stutterheim, Pigeaud, dan peta RA Kromodjoyo Adi Negoro 1921. Selain itu, juga menyelaraskan dengan peta Keletakan Kekunaan Majapahit di Trowulan dan peta Kawasan Cagar Budaya Nasional Trowulan.

Naskah dan legenda peta menyebut ada suatu kompleks bangunan di sisi timur Trowulan yang disebut Kumitir (Kumeper versi Pararaton). Kumitir juga disebut sebagai tempat bangunan Pura van Wengker atau Compound of Wengker-Kadiri. Bhre Wengker merupakan raja bawahan atau vassal dari Majapahit yang menempati kompleks istana di Kumitir dengan masa abad ke-13 dan ke-14. Situs Kumitir bisa menjadi petunjuk dalam mencari kompleks istana atau kedaton Majapahit.

Negarakertagama memberi keterangan bahwa kompleks kedaton dikelilingi oleh istana para raja vassal atau bhre. Kitab ini juga mencatat, di timur, tersekat lapangan, menjulang istana ajaib Raja Wengker dan Rani Daha penaka Indra dan Dewi Saci berdekatan dengan istana Raja Matahun dan Rani Lasem, tak jauh di sebelah selatan kedaton Raja Wilwatikta (Majapahit).

Baca: Sunan Giri Jadi Raja Majapahit Selama 40 Hari?

Tim BPCB menemukan tiga kerangka manusia saat ekskavasi Situs Kumitir pada 3 Maret dan 9 Maret 2021. Ekskavasi yang Situs Kumitir yang memasuki tahap III pada 1-30 Maret 2021 ini merupakan lanjutan dari ekskavasi tahun 2020.

Arkeolog BPCB Jatim, Wicaksono Dwi Nugroho, mengatakan, dari tiga kerangka, hanya satu yang masih utuh. Sementara dua lainnya berupa potongan bagian kerangka individu.

Baca: Pajajaran Bukanlah Nama Kerajaan, Prabu Siliwangi Jenazahnya Diperabukan

“Ada bagian tungkai paha yang tertindih oleh lapisan batuan andesit bulat atau bolder,” ungkap Wicaksono di lokasi situs Kumitir, Selasa (16/3/2021).

Temuan itu, lanjut Wicaksono, memunculkan dugaan beberapa jasad manusia pernah dikubur di Sektor C Situs Kumitir. Untuk mengidentifikasi kerangka yang ditemukan saat penggalian pada Rabu (3/3/2021) itu, tim BPCB mengandeng tim Antropologi dari Universitas Airlangga Surabaya.

Kerangka yang utuh itu ditemukan pada 9 Maret, tepat di sebelah utara serpihan tulang yang didapati pertama kali. Kerangka itu dalam posisi tengkurap dengan tangan berada di samping. Ada sedikit rongga antara lapisan boulders dan kerangka.

”Kami temukan kerangka individu utuh dari tengkorak sampai kaki,” ujar Wicaksono.

Tim Antropolog Unair hanya membawa bagian kerangka manusia yang tidak utuh. Sementara kerangka yang utuh dijaga untuk kepentingan penelitian lebih lanjut.

Tim Unair yang dipimpin pakar palaeoantropologi dan antropologi forensik Toetik Koesbardiati kembali datang ke Situs Kumitir pada Selasa (16/3/2021) petang. Kerangka manusia itu ditutupi peti kayu sebagai perlindungan.

“Ada (kerangka) dua individu yang berhasil diidentifikasi Antropologi Forensik Unair dari serpihan tulang-tulang itu,” terang Wicaksono.

Baca: Dataran Tinggi India Tercatat Dalam Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian Era Pajajaran

Penelitian oleh tim Unair nantinya diharapkan dapat memastikan jumlah individu, jenis kelamin, usia, dan masa kehidupannya. Hasil riset tersebut dapat berguna untuk mengetahui keterkaitan dan narasi ekskavasi Situs Kumitir.

”Penelitian untuk memastikan apakah kerangka itu satu konteks dengan Situs Kumitir atau tidak. Jika misalnya merupakan individu dari masa 1960 berarti tidak terkait dengan narasi Situs Kumitir yang diduga merupakan kompleks istana Bhre Wengker,” papar Wicaksono.

Namun, jika ternyata berasal dari era Majapahit abad ke-13 atau abad ke-14, keberadaan kerangka itu akan menjadi penting dalam menyusun keping narasi Situs Kumitir.

Untuk diketahui, lokasi ekskavasi dibagi menjadi Sektor A, B, C yang berada di sisi barat bersebelahan dengan Makam Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo. Ketiga sektor itu juga merupakan bagian dari pekuburan kurun 1960-1980.

Baca: Kisah Penobatan Prabu Siliwangi Raja Pajajaran Terjadi Gempa Bumi, Begini Isi Lontar Sangara Bumi

Wicaksono menerangkan, kerangka-kerangka tersebut ditemukan di kedalaman 60 sentimeter dari permukaan tanah. Pihaknya menduga, kerangka itu berasal dari periode waktu baru.

Pasalnya, terdapat tempat pemakaman umum desa yang tak jauh dari Situs Kumitir. Tepatnya berjarak hanya 10 meter di sisi timur situs.

“Tetapi setelah diteliti, tanah makam itu lebih rendah 1 meter dari tanah di sektor A, B, dan C situs Kumitir,” ujarnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.